- Maaf Prabowo & DPR tak cukup redam kritik rakyat.
- Seniman Magelang kirim 'tamparan' lewat ritual budaya.
- Kisah bulus jadi simbol pengingat bagi para elite.
SuaraJawaTengah.id - Permintaan maaf dari Presiden Prabowo Subianto dan pimpinan DPR RI atas carut-marut pengelolaan negara agaknya belum cukup meredam kegelisahan publik.
Dari kaki lima gunung di Magelang, para seniman justru mengirim 'tamparan' keras lewat sebuah ritual budaya, menegaskan bahwa rakyat adalah juragan yang tak bisa lagi hanya disuguhi pernyataan.
Melalui acara bertajuk "Lelanane Jangka Gunung", Komunitas Lima Gunung menyuarakan kegundahan yang sudah mencapai ubun-ubun.
Di tengah nyala puluhan obor di Studio Mendut, Magelang, Kamis (4/9/2025) malam, penyair Munir Syalala dengan lantang membacakan puisi tanpa judul yang menohok langsung ke jantung kekuasaan.
"Bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Kita punya sistem. Kita punya hukum. Kita punya aparat. Tapi apakah semua itu sungguh berpihak pada kita? Atau hanya panggung besar, dan kita dipaksa jadi penonton yang bayar tiket, tanpa pernah boleh ikut menentukan ceritanya?".
Puisi tersebut seakan menjadi cermin bagi para elite penguasa yang belakangan menyampaikan permohonan maaf. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat percaya pada pemerintahannya untuk memperbaiki keadaan.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang memohon maaf atas nama seluruh anggota dewan dan berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh.
Namun bagi para seniman petani ini, kata-kata tak lagi memadai. Aksi mereka, yang disebut dalang Sih Agung Prasetyo sebagai "Parade puisi Lima Gunung untuk negeri", adalah wujud nyata bahwa perbaikan riil yang dirasakan rakyat jauh lebih mendesak.
Acara ini bukan sekadar panggung sastra. Performa ritual diawali dengan prosesi berjalan tanpa alas kaki dari Studio Mendut menuju Candi Mendut.
Baca Juga: Ironi! Program MBG Andalan Prabowo di Demak Dikuasai Swasta, Daerah Miskin Gigit Jari!
Para peserta mengenakan pakaian serba putih, bahkan sajian makanan pun serba putih, mulai dari nasi gurih, bihun, hingga ubi kayu. Ini adalah simbolisasi usaha untuk membersihkan dan menjernihkan keadaan negeri yang dianggap muram dan keruh.
Budayawan Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut, turut mengingatkan penguasa melalui kisah relief di Candi Mendut tentang bulus (kura-kura) yang ingin terbang dibantu sepasang angsa.
Karena tak bisa menahan diri untuk tidak bicara, kura-kura itu akhirnya terjatuh dan mati.
Pesan simbolis ini sangat jelas: sebuah peringatan bagi penguasa dan elite untuk senantiasa rendah hati dan mawas diri. Kepemimpinan yang sah secara legalitas harus diimbangi dengan wibawa agar tidak jatuh dan kehilangan kepercayaan rakyatnya.
Selain Munir, tampil pula para penyair dan pegiat seni lain seperti Wicahyanti Rejeki, Novian Nugroho, hingga Siwi Kawuryan Winangsit yang membawakan karya-karya sastrawan besar seperti WS Rendra, Gus Mus, dan Wiji Thukul.
Mereka seolah menegaskan bahwa kritik dan kegelisahan ini berakar kuat dalam sejarah perlawanan intelektual bangsa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Perkuat Sistem Tanggap Darurat Perusahaan, PT Semen Gresik Gelar Sertifikasi Pemadam Kebakaran
-
Imigrasi Semarang Deportasi 14 WNA dan Tolak 21 WNA Masuk via Bandara Ahmad Yani
-
Hari Anak Nasional 2026: BRI Peduli Ini Sekolahku Gelar Edukasi Finansial, Dorong Semangat Belajar
-
Didakwa Pasal Berlapis, Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq Tak Ajukan Keberatan
-
Krisis Air dan Perubahan Iklim Mengintai, Amdatara Desak Pabrik AMDK Segera Jadi Industri Hijau