- Teding Teater sukses mementaskan lakon klasik "Fajar Siddiq" karya Emil Sanossa pada 26 November 2025 di Gedung Oudetrap Semarang.
- Lakon ini menceritakan pergulatan moral seorang kyai yang merelakan anaknya dihukum mati demi revolusi perjuangan kemerdekaan.
- Pentas berdurasi satu jam tersebut berhasil menyampaikan pesan pengorbanan pahlawan melawan kepentingan pribadi para pemimpin masa kini.
SuaraJawaTengah.id - Di tengah gemerlap lampu Kota Lama Semarang, sebuah pertunjukan teater menjadi cermin retak bagi realitas politik kiwari.
Teater Teding berhasil menyuguhkan lakon klasik “Fajar Siddiq” karya Emil Sanossa pada Rabu (26/11/2025) malam, yang tidak hanya memukau penonton tetapi juga menyentil nurani para elite penguasa.
Bertempat di Gedung Oudetrap yang historis, pentas yang disutradarai oleh Nasrun M Yunus ini disambut tepuk tangan meriah.
Ratusan penonton larut dalam kisah tragis yang mempertaruhkan segalanya: keluarga, persahabatan, dan nyawa demi tegaknya sebuah revolusi.
“Fajar Siddiq” memang bukan lakon yang mudah dicerna. Alurnya sarat dengan intrik psikologis yang kompleks.
Penonton diseret ke dalam pergulatan batin seorang kyai (diperankan oleh Ahmad Sofyan Hadi) yang harus merelakan putranya sendiri dieksekusi mati atas tuduhan pengkhianatan.
Di sisi lain, ada pemimpin gerilya Marjoso (Anton Sydibyo) yang hatinya terbelah karena sang pengkhianat adalah sahabat masa kecilnya.
Pusat konflik ada pada sosok Ahmad (Wikha Setiawan), yang tindakannya didasari dendam kesumat kepada Marjoso, orang yang ia yakini telah menembak mati ibunya. Ia membakar lumbung padi yang menjadi logistik penting bagi para pejuang.
Meski adiknya, Zulaikha (Imaniar Yordan Cristie), berteriak histeris bahwa pembakar pesantren sebenarnya bukanlah Ahmad, melainkan tentara Belanda, semua sudah terlambat.
Baca Juga: Keluarga Terkejut Dosen Untag Diam-diam Pindah KK: Ramah di Luar, Tertutup di Rumah
Sang Kyai bergeming. Baginya, hukum revolusi harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Ia menganggap tindakan Marjoso adalah keharusan demi menyelamatkan revolusi.
Akhirnya, sesaat sebelum fajar menyingsing, atas restu ayahnya sendiri, Marjoso memerintahkan sersan (Daniel Hakikie) untuk menembakkan timah panas ke dada Ahmad. Sebuah pengorbanan tertinggi demi kepentingan bangsa yang lebih besar.
Sutradara Nasrun M Yunus sengaja memilih naskah dari era 1980-an ini bukan tanpa alasan.
Menurutnya, kekuatan naskah lama bukan hanya pada plot dan karakternya. Tapi juga cerita dan pesannya yang tak lekang dimakan zaman."
Melalui pertunjukan berdurasi satu jam yang penuh intensitas, pesan itu sampai dengan telak. Penonton diajak merenung, betapa para pahlawan kemerdekaan rela mengorbankan ikatan darah dan orang-orang tercinta demi negara.
Sebuah ironi yang menampar keras wajah elite politik hari ini. Di saat lakon di panggung menunjukkan pengorbanan tertinggi, di dunia nyata justru tersaji tontonan para pemimpin yang sibuk menggerogoti kekayaan negara untuk kepentingan pribadi atau tanpa malu mengutak-atik konstitusi demi melanggengkan kekuasaan keluarganya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Sidang Korupsi Fadia Arafiq: Eks Ajudan Bongkar Titipan Uang OPD untuk THR dan Ribuan Parsel
-
Luthfi Tantang Kepala Daerah Jaga APBD: Tak Boleh Ada Satu Rupiah Pun Salah Sasaran
-
Unsoed Buka Suara Usai Rektor Kena OTT KPK: Warek I dan Warek 4 Pegang Kendali Pimpinan
-
BRI Group Makin Diakui, Raih Enam Penghargaan Bergengsi Asia 2026
-
BRI Dukung Potensi Bank Emas Indonesia Lewat Ekosistem Emas Terintegrasi