Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 02 Januari 2026 | 18:05 WIB
Kios Mbako Genthong menampung beragam jenis tembakau hasil panen petani Magelang dan Temanggung. (Suara.com/Angga Haksoro A).
Baca 10 detik
  • Mbako Genthong, kios di Magelang, menjual tembakau dan kopi dari petani sekitar Magelang dan Temanggung sebagai alternatif penting.
  • Usaha ini didirikan empat pemilik untuk memenuhi kebutuhan rokok lintingan teman-teman, kemudian berkembang menyerap hasil panen petani.
  • Kios ini menjadi mitra krusial petani setelah pabrik rokok mengurangi serapan, membantu menjaga nilai jual tembakau mereka.

SuaraJawaTengah.id - Aroma tembakau dan cengkeh menggenapi wewangian khas kios Mbako dan Kopi Genthong di Desa Pasuruhan, Mertoyudan. Rumah pertahanan kaum akar rumput.

Rak dan etalase kios sederhana yang menempati bekas warung bakso ini, dipenuhi kemasan rajangan tembakau dan bubuk kopi hasil panen petani sekitaran Magelang dan Temanggung.

Empat pemilik bersama Mbako Genthong: M Dhofir, Thoyyib Rizqi, Mahbub Latif, dan Umar Musyafak hingga kini masih rajin menyambangi dusun-dusun penghasil tembakau di lereng Sumbing dan Sindoro.  

Kios-kios tembakau seperti Mbako Genthong tumbuh di tengah menyusutnya serapan pabrik rokok dan naiknya harga rokok pabrikan. Bagi petani tembakau di lereng Sumbing dan Sindoro, jalur ini menjadi alternatif kecil namun krusial untuk menjaga nilai panen tetap hidup.

“Kami cari langsung tembakau dari petani. Malah sering dapat mbako lawasan, stok hasil panen yang sudah disimpan lama,” kata Thoyib Rizqi.      

Menurut Thoyib tembakau bisa awet disimpan jika cara penanganannya benar. Serupa wine, semakin lama tembakau disimpan rasanya semakin gurih.

Kelembaban menyebabkan rajangan tembakau gampang berjamur hingga dimakan kutu. Idealnya wadah penyimpanan kedap udara sehingga tembakau terjaga tetap kering.

“Kami sempat pakai genthong tanah liat dilapis kulit gedebog pisang untuk menyimpan rajangan tembakau. Nama Mbako Genthong, kami ambil dari cara penyimpanan itu.”

Tapi ternyata menyimpan tembakau dalam Genthong tidak begitu berhasil menjaga kelembaban. Sekarang meski nama “Genthong” dipertahankan, mereka memilih menggunakan kantong plastik untuk menyimpan tembakau.   

Baca Juga: Duh! Tembakau Temanggung Tak Laku di Tengah Panen Raya

Pasar Tani Lokal

Ide awal merintis usaha Mbako Genthong tidak seratus persen dimaksudkan untuk bisnis. Semula hanya bertujuan menyediakan bahan rokok lintingan untuk teman-teman dekat.

Irisan lingkaran pertemanan mayoritas pelanggan Mbako Genthong adalah warga muslim tradisional. Maka maksud pendirian kios tembakau dan kopi ini untuk melayani kebutuhan pasar tersebut.

Kebetulan petani tembakau di Temanggung juga berasal dari sub-kultur masyarakat yang sama. “Awalnya kami silaturahim. Disana (Temanggung) ngopi, melakukan tester rasa tembakau bareng-bareng terus ketemu grade yang pas untuk kami bawa ke Mertoyudan,” kata M Dhofir.

Dari situ kemudian tersambung niatan untuk secara rutin menjembatani pemasaran tembakau dari Temanggung ke Magelang.

“Apalagi sekitar tahun 2020 harga rokok pabrikan mulai naik. Kami buka kios yang menyediakan tembakau curah untuk rokok linting dewe-tingwe. Padahal tadinya cuma mikir gimana caranya biar kami dan teman-teman bisa tetep ngebul,” ujar M Dhofir sambil tertawa.

Modal pertama Mbako Genthong dihimpun dari patungan M Dhofir, Thoyyib Rizqi, Mahbub Latif, dan Umar Musyafak. Masing-masing bantingan uang sebesar Rp2 juta.

Dari modal awal Rp8 juta mereka mulai berburu daun sotho ke dusun-dusun penghasil tembakau di Temanggung. Dari mulai Banaran, Kemloko, dan Bansari.

M Dhofir salah satu yang dituakan dalam sirkel tingwe Mbako Genthong. Selain pendiri usaha, dia juga penyuluh pertanian swadaya di Magelang.

Dari kegiatan penyuluhan pertanian, Dhofir punya banyak koneksi kenalan petani. “Alhamdulillah dari Mbako Genthong sekarang sudah ada sisa kulakan-nya. Istilahnya sudah ada marjin keuntungan.”

Tapi jalur penjualan tembakau terbilang unik. Perlu hubungan dekat lebih dari sekadar kenal agar punya kesempatan disilakan masuk ke gudang-gudang rumahan tempat menyimpan tembakau.  

“Ikatan kekeluargaan di tembakau itu kuat. Misal mbako Banaran, kita nggak bisa masuk kalau nggak punya koneksi. Koneksi ini bukan sekadar teman, tapi saudara,” ujar Thoyyib Rizqi.

Tembakau Banaran merujuk pada tembakau kualitas tinggi asal Desa Banaran, Kecamatan Tembarak, Temanggung. Desa ini terkenal terutama karena hasil tembakau Srinthil.

Banaran juga penghasil tembakau jenis lembutan atau Lamsi Banaran yang memiliki karakter rasa manis dan harum yang khas. “Nggak gampang beli tembakau langsung ke petani. Tapi kalau ada saudara dan tahu kita mau jualan, kadang dikasihkan. Ekslusif nyata di tembakau.”

Tertutup Pintu Pabrik

Pada masa jayanya, petani tembakau punya posisi tawar harga yang kuat. Jaminan tembakau masuk pabrik rokok, menyebabkan petani tidak terlalu menganggap para pembeli eceran.

Tapi cerita itu berubah dua tahun terakhir ini. Semenjak PT Gudang Garam memutuskan mengurangi—bahkan berhenti membeli tembakau dari petani Temanggung.

Harga jual tembakau Temanggung musim ini, terjun hingga Rp40-50 ribu per kilogram. Padahal dulu, PT Gudang Garam bersedia membeli Rp60-80 ribu per kilogram.

Petani terpaksa menjual tembakau ke PT Djarum dengan harga lebih murah dengan syarat kualitas yang berbeda. Tidak seperti Gudang Garam, tembakau yang diterima Djarum tidak boleh dicampur gula.

Akibatnya banyak hasil panen tidak lolos sortir. Padahal setiap tahun rata-rata petani Temanggung menghasilan 8.400 ton tembakau siap olah.

Penyesuaian serapan ini, menurut pelaku usaha, berkaitan dengan kebijakan internal dan perubahan strategi industri rokok skala besar. Tembakau hasil panen tahun ini dinilai berkualitas rendah karena terlalu banyak disiram hujan.  

Menurut Thoyyib Rizqi, tarik-ulur pasokan tembakau Temanggung ke pabrik rokok mulai dirasa petani 5-10 tahun belakangan. Sejak saat itu perlahan petani mulai berstrategi menyisihkan sebagian hasil panen diolah menjadi tembakau rajangan halus.

Pabrik rokok hanya menerima tembakau rajangan kasar. Petani menyiapkan tembakau rajangan halus untuk pemakaian sendiri atau dijual sebagai produk premium dan rokok linting.

“Sekarang petani biasanya menyisihkan sepertiga rigen dalam bentuk mbako rajangan halus. Istilahnya mbako lembutan. Disiapkan untuk stok sendiri, pasar online, atau dijual ke kios mbako.”

Rigen adalah istilah yang dipakai untuk menyebut anyaman bambu berbentuk segi empat wadah menjemur tembakau. Setelah kering dijemur tembakau rajangan siap dikirim ke pabrik atau masuk gudang penyimpanan.

Infografis perusahaan rokok yang mengimpor tembakau. [Suara.com/Aldie]

Menjaga Ikatan

Jika dulu petani tembakau menjadikan pabrik rokok sebagai satu-satunya harapan menjual hasil panen, kini mereka mulai melirik kios-kios tembakau sebagai mitra usaha.

“Saya ingat dulu keliling lingkar Gunung Sumbing (mencari tembakau). Akhir-akhir ini sekitar dua tahun, justru petani sendiri yang ngantar ke kios.”

Beberapa petani bahkan percaya titip jual tembakau di kios Mbako Genthong. Secara berkala mereka datang untuk mengambil uang hasil penjualan sekaligus mengganti tembakau lama dengan yang baru. 

Jaringan kemitraan itu kata Thoyyib Rizqi terbangun secara alami. Tidak ada perjanjian kerjasama. Hanya didasari rasa saling percaya yang diperkuat ikatan kekeluargaan.

Memang jumlah tembakau yang sanggup ditampung oleh kios, sedikit sekali dibanding kapasitas pabrik yang bertonase besar. Tapi kios berani membeli tembakau dengan harga lebih layak dibanding standar pabrik.

Mbako Genthong rata-rata berani membeli tembakau rajangan halus dari petani diharga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram. Mereka bahkan pernah sekali membeli tembakau dari Banaran seharga Rp450 ribu per kilogram.

“Kami beli cuma dua kilo hanya untuk ngetes. Laku nggak sih jualan tembakau mahal. Nyatanya ya habis,” kata Thoyyib Rizqi.

Tapi setelah itu tidak pernah lagi Mbako Genthong membeli tembakau dengan harga mahal. Pangsa pasar mereka adalah orang dekat dan kenalan yang isi kantongnya rata-rata.

Seduluran Tembakau

Tidak hanya kepada para petani, prinsip kekeluargaan juga berlaku kepada para pelanggan. Meski bisa untung besar, menjual tembakau yang harganya mahal serasa mengkhianati perkawanan.

“Hubungan kami dengan petani dan pelanggan mengalir begitu saja. Sekarang lebih seperti seduluran. Lebaran kemarin atau kalau ada yang nikahan kami diundang ke Temanggung.”

Lingkar paseduluran Mbako Genthong belakangan meluas hingga ke pelinting rokok rumahan. Asal ada permintaan, Mbako Genthong bisa menghubungkan pembeli dengan perajin pelinting rokok.

Banyak para pembeli tembakau curah malas atau tidak bisa melinting rokok sendiri. “Istilahnya sekalian didadekake-dijadikan. Tapi ini jasa yang terpisah dari penjualan tembakau curah. Kebetulan ada kenalan kami yang istrinya dulu pekerja pelinting rokok di Salatiga.”

Ketar-ketir Rokok Ilegal

Thoyyib Rizqi masih ingat razia besar-besaran rokok ilegal selama periode 2021-2022 di Magelang. Jutaan bungkus rokok tanpa pita cukai disita dan dibakar.

Meski hingga saat ini aturan cukai tembakau untuk rokok lintingan konsumsi pribadi masih abu-abu, ada kekhawatiran kios-kios kecil penjual tembakau akan kembali dirazia.

Selama aturan serapan hasil tembakau ke pabrik rokok terus-terusan merugikan petani, mereka akan selalu mencari jalan untuk bertahan hidup. Salah satunya menjual tembakau langsung ke kios kecil.

Bagi pemilik kios kecil seperti Mbako Genthong, menampung hasil panen para petani serupa menjaga nafas hidup para sedulur mereka di lereng Sumbing dan Sindoro. 

Menurut Thoyyib Rizqi, usaha kecil yang dirintis bersama kawan-kawannya lebih punya peluang menghidupi banyak orang. Ironi bagi petani jika mereka dipaksa hanya menjual tembakau ke pabrik. 

Sebab faktanya pabrik kini berhenti menerima kiriman tembakau. “Kami bukan mau melanggar. Ini soal bertahan. Kalau tembakau lintingan ikut ditutup tanpa solusi, petani mau jual ke siapa?”

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Load More