- Erfan Soltani (26 tahun) divonis hukuman mati sangat cepat di Fardis setelah penangkapan terkait demonstrasi Iran.
- Otoritas Iran minim informasi, bahkan menghalangi akses hukum bagi saudara Soltani yang berprofesi pengacara.
- Pemadaman internet mempersulit verifikasi nasib demonstran lain di tengah kekhawatiran hukuman mati sebagai alat penekan.
5. Kekhawatiran Internasional dan Reaksi AS
Kasus Soltani dan tindakan keras Iran memicu kekhawatiran internasional. Departemen Luar Negeri AS menyatakan di akun X, "Erfan adalah demonstran pertama yang dijatuhi hukuman mati, tetapi dia bukan yang terakhir."
Mantan Presiden Donald Trump sebelumnya juga telah menyerukan "tindakan yang sangat tegas" terhadap Iran jika mengeksekusi para demonstran.
6. Skala Penangkapan dan Korban Protes
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan bahwa sejauh ini mereka telah mengkonfirmasi kematian 2.417 demonstran, 12 anak-anak, serta 10 warga sipil yang tidak terlibat.
Selain itu, "setidaknya 18.434 demonstran telah ditangkap selama kerusuhan," menurut HRANA. Angka-angka ini menunjukkan skala tindakan keras yang masif.
7. Hukuman Mati sebagai Alat Penekan
"Penanganan kasus ini yang terburu-buru dan tidak transparan telah meningkatkan kekhawatiran atas penggunaan hukuman mati sebagai alat untuk menekan protes publik," kata Hengaw.
Kepala mahkamah tertinggi Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, telah berjanji akan mengambil tindakan hukum yang cepat terhadap apa yang disebutnya sebagai "perusuh", dengan prioritas pada mereka yang "melakukan tindakan terorisme".
Baca Juga: Menguak Warisan Kekayaan Mohammad Reza Pahlavi: Dari Minyak hingga Kerajaan Bisnis Global
8. Protes "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" dan Eksekusi Sebelumnya
Protes saat ini, yang dipicu oleh kemarahan atas anjloknya mata uang dan melonjaknya biaya hidup, dengan cepat meluas menjadi tuntutan perubahan politik.
Ini bukan kali pertama Iran menghadapi protes besar dan menjatuhkan hukuman mati. Setidaknya 12 pria telah dieksekusi di Iran selama tiga tahun terakhir terkait dengan protes "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" pada 2022, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
Pilihan
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Imbas Perang Iran, Pemerintah Cari Minyak dari AS demi Cegah Harga BBM Naik
Terkini
-
Tragedi Razia Sabung Ayam di Tegal: 7 Fakta Ditemukannya Korban Tenggelam di Sungai Ketiwon
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Operasi Fraktur Tangan Berjalan Lancar, Kushedya Hari Yudo Kini Fokus Pemulihan
-
Kejar Tayang Mudik Lebaran! Jalan Semarang-Godong Dikebut, Gubernur: H-7 Harus Beres!
-
7 Fakta Tragis Kebakaran di Semarang: Lansia 94 Tahun Tewas, Diduga karena Rokok