Budi Arista Romadhoni
Kamis, 29 Januari 2026 | 08:23 WIB
Gus Yusuf Chudlori menyambut band God Bless di kediamannya di Pondok Pesantren API Tegalrejo. (Suara.com/ Angga Haksoro Ardi).
Baca 10 detik
  • API Tegalrejo, Magelang, merayakan khataman santri dengan pesta rakyat mengundang band rock God Bless pada 2026.
  • Tradisi ini menunjukkan sikap pesantren berdialog dengan modernitas melalui kolaborasi kultur pesantren dan budaya lokal.
  • Kegiatan pesta rakyat ini berdampak positif, termasuk edukasi lintas generasi dan peningkatan ekonomi warga sekitar.

SuaraJawaTengah.id - Menjelang bulan Ramadan, Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang menggelar rangkaian tradisi khataman yang tidak biasa. Mengolaborasikan kultur pondok pesantren dengan budaya lokal dan modern.    

Di balik tembok pesantren yang kental dengan metode sorogan kitab kuning dan jadwal ngaji yang padat, Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo justru membuka diri pada pertunjukan musik.

Rangkaian khataman ngaji para santri Tegalrejo dirayakan dalam bentuk pesta rakyat. Tidak hanya santri, warga diajak hadir bersuka cita menyambut akhir masa belajar sebelum masuk bulan puasa.   

Pasar malam seminggu, konser musik band ternama, serta Karnaval Pawiyatan Budaya Adat, menjadi agenda rutin tahunan. Jadwal khataman Pondok API Tegalrejo selalu ditunggu-tunggu.

Tahun lalu, tampil Woro Widowati, band Aftershine, dan Guyon Waton menghibur santri yang telah menyelesaikan satu tahun pendidikan. Band Jamrud pernah tampil pada acara ini tahun 2023.

Giliran Fastavaganza 2026, mengundang God Bless untuk tampil pada rangkaian khataman belajar santri API Tegalrejo. 

Rock Pondok Pesantren

Lewat tradisi khataman ini, Gus Yusuf Chudlori menegaskan satu sikap: Pesantren tidak berdiri berhadap-hadapan dengan modernitas, melainkan berdialog dengannya.

“Anak-anak muda harus kenal para seniornya. Karya-karya beliau (God Bless) ini luar biasa. Ini juga edukasi,” kata Gus Yusuf yang mengaku penggemar God Bless sejak akhir 1980-an.

Baca Juga: Terlupakan dalam Sejarah: Kisah Heroik Soeprapto Ketjik di Magelang, Berani Melawan Tentara Jepang

Gus Yusuf mengaku pernah ikut berdesak-desakan menonton konser God Bless “Raksasa” di Stadion Sriwedari, Solo pada Oktober 1989. Beliau juga hadir menyaksikan konser Gong 2000 tahun 1993 di Stadion Kridosono, Yogyakarta.

Gong 2000 adalah proyek musik bentukan Ian Antono, Ahmad Albar, dan Donny Fattah tahun 1991. Berbeda dengan God Bless yang cederung beraliran progresif rock, Gong 2000 banyak mengeksplorasi musik aransemen megah, kompleks, dan memasukkan unsur etnik.

“Alasan saya agak subyektif. Saya penggemar God Bless sejak akhir 80-an sampai 90-an. Saya ikuti tur om Ian (Ian Antono-gitaris God Bless) di Yogyakarta dan Solo. Alhamdulillah berjodoh, hari ini bisa hadir.”

Vokalis God Bless, Ahmad Albar mengaku terkejut atas undangan menggelar konser di Pondok Pesantren API Tegalrejo. “Saya agak tegang juga. Biasanya di pondok pesantren (kegiatannya) ceramah.”

Menurut Ahmad Albar, pada konser kali ini mereka akan menampilkan 12 sampai 13 lagu. Semua lagu akan ditampilkan spesial di depan penonton yang rata-rata santri. “Saya masih bertanya-tanya. Ini bener nih (konser di pondok pesantren). Kami berusaha tampil menghibur,” ujar Ahmad Albar. 

Edukasi Lintas Generasi

Lebih dari itu, bagi Gus Yusuf kolaborasi API Tegalrejo dengan God Bless bukan sekadar menghadirkan hiburan. Melainkan bagian dari proses edukasi lintas generasi.

Dia menyebut generasi muda hari ini yang akrab dengan TikTok dan budaya instan, perlu dikenalkan pada karya para legenda yang membentuk wajah musik Indonesia.

Harus disadari menggelar konser musik di lingkungan pesantren masih sering dipandang janggal. Tapi justru di situ pesan yang ingin disampaikan.

Bahwa pesantren bukan ruang tertutup, melainkan ruang belajar yang hidup dan kontekstual.

Sikap terbuka itu tidak hanya terbaca sebagai keberanian simbolik dari dalam pesantren. Di luar pagar API Tegalrejo, respons datang dari mereka yang rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan momen langka ini.

Budi Jangkrik, warga Jepara, berangkat sejak pukul dua dini hari demi menyaksikan God Bless tampil di Lapangan Butuh, Desa Dlimas, Tegalrejo, Rabu (29/1) malam.

Selain penggemar God Bless sejak era 1980–1990-an, Budi juga musisi dan perajin gitar. Konser menurut Budi bukan sekadar nostalgia. “Menurut saya ini konteksnya spiritual.”

Budi melihat karya-karya God Bless sebagai suara kemanusiaan yang konsisten dikumandangkan lebih dari lima dekade. Nilai yang selaras dengan pesan moral dan spiritual pondok pesantren.

Islam Nusantara

Budi menilai langkah API Tegalrejo mengundang God Bless, mencerminkan wajah Islam Nusantara yang lentur dan dialogis. Mengingatkannya pada metode dakwah Walisongo yang merangkul kebudayaan lokal.

“Ini seperti dihidupkan kembali ke era Walisongo. Syiar Islam itu dinamis, elastis, dan tidak kaku,” ujarnya.

Menurutnya, pesantren yang mampu merangkul seni, musik, dan budaya, menunjukkan kedewasaan dalam memaknai keberagaman ekspresi manusia. Sikap menghargai itu lahir tanpa harus kehilangan nilai iman.

Konser God Bless di API Tegalrejo bukan anomali. Melainkan penanda bahwa pesantren bisa menjadi ruang saling sapa antara tradisi, seni, dan perubahan zaman.

“Islam itu sejuk. Tidak dipagari sekat-sekat kaku. Dan di sini saya melihat itu nyata,” kata Budi Jangkrik.

Tradisi menggelar pesta rakyat sebagai rangkaian khataman ngaji para santri API Tegalrejo, juga berdampak pada perekonomian warga. Warga membuka lapak-lapak jualan di sepanjang jalan menuju lokasi konser.

Ngunduh Rezeki

Lia warga Desa Wanurejo, Borobudur salah satu yang ikut ngunduh rezeki dari tradisi khataman Tegalrejo setiap tahun. Dari berjualan corndog, sosis bakar, dan mie instan, Lia mengaku bisa meraup omzet Rp1 juta dalam semalam.

Pada khataman tahun lalu, Lia membuka lapak jualan di lokasi pasar malam. Tahun ini, dia kebagian membuka tenda di sekitar lokasi konser God Bless.  

“Saya memang biasa jualan pindah-pindah ngikuti pusat keramaian. Tiap tahun pasti ikut jualan di khataman Tegalrejo. Kadang dapat lapak di pasar malam,” kata Lia. 

Rata-rata pembeli adalah para santri di lingkungan API Tegalrejo yang mendapat izin keluar mengunjungi pusat keramaian. Mereka dibolehkan menonton konser musik dibawah pengawasan ketat para pengasuh.

Di API Tegalrejo, musik rock bukan ancaman bagi nilai pesantren. Tapi menjadi medium dialog antar generasi.

Pesta rakyat yang memeriahkan khataman API Tegalrejo, menjadi sarana dimana realitas dunia luar pondok dan budaya lokal lebur tanpa harus melunturkan iman. Sebab zaman yang terus bergerak adalah keniscayaan.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Load More