- Wahyu Wiji Nugroho merintis usaha sepatu di Magelang sejak 2022, namun bisnisnya gagal akibat biaya operasional tinggi dan pasar kurang mendukung.
- Keterbatasan jaringan sosial di Magelang menjadi tantangan signifikan bagi Wisnu yang terbiasa aktif dan dikenal di Solo.
- Narasi populer tentang Magelang sebagai kota "slow living" dianggap berbahaya jika disalahartikan sebagai pembenaran tanpa kerja keras finansial.
Harga sewa kios di sekitar kawasan Akmil hampir sama dari Solo dan Yogyakarta. Sekitar Rp20 juta per tahun.
Padahal potensi pasar di Magelang tidak sebanding dengan dua kota besar itu. Sebulan paling banter terjual lima pasang sepatu.
Jumlah pegawai dikurangi hingga tersisa satu orang. Pelan-pelan bisnis sepatu di Magelang bertahan dengan mengandalan subsidi dari keuntungan toko di Solo.
Lebih dari Rp100 juta untuk modal usaha hangus. “Tiga tahun itu harusnya sudah kelihatan progres. Tapi enggak ada,” katanya.
Di Magelang kata Wisnu, pasar sepatu merek lokal tidak terbentuk. Anak-anak muda lebih memilih sepatu bekas asal bermerek.
Diluar situasi itu, menurut pengamatannya ada kultur pertemanan yang tak tertulis tapi mempengaruhi dunia usaha di Magelang.
Bisnis sering lebih jalan karena mengandalkan jejaring lama. Teman SD. Teman SMP. Teman SMA. Lingkaran yang dibangun bukan dari kesamaan minat, tapi sejarah panjang kebersamaan.
“Kayaknya di sini kalau mau buka usaha, harus jadi orang dulu. Dikenal dulu,” kata Wisnu.
Buat perantau seperti Wahyu, kondisi itu seperti tembok. Sulit ditembus dan pelan-pelan membunuh usahanya.
Baca Juga: 7 Fakta Pemotor di Blora Terjang Jalan Cor Basah hingga Dilaporkan ke Polisi
Ekstrovert yang Kehabisan Energi
Wahyu mengaku ekstrovert. Dia biasa nongkrong tiap hari di Solo. Diskusi. Debat. Merancang event. Bertemu orang baru. Energinya datang dari interaksi.
Tapi di Magelang, enam bulan pertama terasa seperti ruang hampa. Tanpa kenalan, dia kesepian.
Untuk memecah kesunyian, dia ikut gym. Nimbrung main basket seperti yang biasa dilakukannya di Solo.
Berbagai cara dilakukan agar bisa masuk ke lingkaran-lingkaran sosial. Tapi lingkaran pertemanan terasa eksklusif.
Sebagai mantan dosen dengan latar belakang psikolinguistik, Wahyu bisa membaca bahasa tubuh yang setengah menerima. Setengah menjaga jarak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Dorong Daya Saing UMKM, KUR BRI Regional Office Semarang Tembus Rp5,63 T hingga Maret 2026
-
Siap-siap! Ini Estimasi Biaya Kuliah Kedokteran Unsoed 2026, Setara Beli Mobil SUV Baru!
-
Viral! 7 Fakta Jukir Liar Ngepruk Rp40 Ribu di Kota Lama Semarang, Alasan Lupa dan Hujan
-
TPPD Jateng Ingatkan Anak Muda Jangan Terkecoh Konten Medsos: Kinerja Pemerintah Harus Berbasis Data
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat