Budi Arista Romadhoni
Rabu, 25 Februari 2026 | 22:12 WIB
Ilustrasi hidup slow Slow Living di Magelang yang berakhir bangkrut. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Wahyu Wiji Nugroho merintis usaha sepatu di Magelang sejak 2022, namun bisnisnya gagal akibat biaya operasional tinggi dan pasar kurang mendukung.
  • Keterbatasan jaringan sosial di Magelang menjadi tantangan signifikan bagi Wisnu yang terbiasa aktif dan dikenal di Solo.
  • Narasi populer tentang Magelang sebagai kota "slow living" dianggap berbahaya jika disalahartikan sebagai pembenaran tanpa kerja keras finansial.

SuaraJawaTengah.id - "Hidup tak segampang itu, Ferguso!" Istilah populer yang sering dilontarkan ketika realita tak seindah ekspektasi, kini terasa sangat relevan bagi Wahyu Wiji Nugroho. 

Magelang dalam bayangan orang sering tampil bak gambar pemandangan pada kartu pos. Gunung di kejauhan, pagi berkabut, dan ritme kota yang tak tergesa—tempat ideal untuk menepi.

Tapi bagi Wahyu, perantau asal Solo, hidupnya justru berkebalikan. Semenjak pindah ke Magelang tahun 2022, usaha yang sempat dirintisnya akhirnya gulung tikar.

Wahyu merintis bisnis dari nol. Tanpa kawan dan kenalan, dia kesepian di kota yang katanya menjanjikan kenyamanan.

Istrinya dosen yang diterima sebagai PNS di Magelang. Wisnu yang punya pekerjaan lebih fleksibel terpaksa meninggalkan Solo, kota yang memberinya jaringan, reputasi, dan panggung sosial.

Sebelum pindah, bayangannya soal Magelang adalah desa yang asri, pohon kelapa, dan rumah dengan halaman luas. Ternyata Magelang tak sesederhana itu.

Ada kota. Kawasan urban. Dan harga-harga kebutuhan hidup yang tak kalah mahal dari Solo—bahkan Jakarta.

“Jajan nasi goreng sama telur di sini bisa Rp17 ribu. Di Jakarta Timur ya segitu juga,” katanya.

Wahyu segera sadar bahwa biaya hidup di kota “slow living”, ternyata tidak sesantai itu. Bahwa tidak selalu kota kecil memberikan hak istimewa bisa belanja lebih murah.

Baca Juga: 7 Fakta Pemotor di Blora Terjang Jalan Cor Basah hingga Dilaporkan ke Polisi

Pindah ke kota “nyaman” tidak otomatis membuat hidup lebih gampang.

Pasar Sepi, Biaya Sewa Tinggi

Di Solo, Wahyu punya usaha penjualan sepatu Warrior. Brand yang lekat dengan pelajar.

Dia paham pasar dan ritme bisnis ini dari pengalaman bertahun-tahun. Di Solo Wahyu punya jaringan perkawanan yang luas.

Pernah aktif sebagai Ketua Liga Solo—kompetisi bola basket jenjang SD hingga SMA yang mempertemukannya dengan banyak orang, banyak ide, dan banyak peluang.

Di Magelang, dia mencoba mengulang bisnis dengan formula yang sama. Tiga tahun usaha sepatunya berjalan. Hasilnya? Bakar uang.

Load More