Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 20 Maret 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi remaja membuka media sosial di ponselnya. (Freepik/freepik)
Baca 10 detik
  • Psikolog menyarankan penggunaan berlebihan memicu perbandingan sosial destruktif dan mengikis harga diri remaja.
  • Ketergantungan validasi dari media sosial menyebabkan harga diri menjadi eksternal, memicu kecemasan dan FOMO.
  • Penggunaan gawai larut malam menurunkan kualitas tidur remaja karena gangguan hormon melatonin oleh cahaya biru.

SuaraJawaTengah.id - Penggunaan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja modern. Namun, di balik kemudahan konektivitas dan informasi, tersembunyi potensi dampak psikologis serius yang seringkali luput dari perhatian.

Psikolog Klinis Dewasa, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan pada remaja dapat memicu berbagai masalah, mulai dari perbandingan sosial yang merusak hingga gangguan tidur yang mengganggu.

Teresa menjelaskan, salah satu dampak paling umum adalah kecenderungan remaja untuk membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.

"Remaja bisa merasa tidak cukup menarik, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial," ujar Teresa dikutip dari ANTARA .

Fenomena ini diperparah oleh fakta bahwa media sosial umumnya menampilkan sisi terbaik seseorang, sementara remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas belum sepenuhnya mampu memilah antara realitas dan representasi yang disajikan. Akibatnya, perbandingan sosial yang terus-menerus dapat mengikis harga diri mereka.

Lebih lanjut, Teresa menyoroti bagaimana validasi dari media sosial dapat menjadi pedang bermata dua.

"Jika validasi terlalu bergantung pada likes dan komentar, harga diri menjadi sangat eksternal. Artinya, rasa percaya diri bergantung pada respons orang lain," katanya.

Ketergantungan pada pengakuan eksternal ini dapat membuat remaja rentan terhadap fluktuasi emosi dan kecemasan. Selain itu, penggunaan media sosial yang intens juga berkaitan erat dengan munculnya fear of missing out  (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal informasi atau tren sosial.

Remaja dapat merasa cemas ketika tidak mengikuti perkembangan terbaru atau tidak terlibat dalam percakapan digital dengan teman sebaya, menciptakan tekanan sosial yang konstan.

Baca Juga: Ratusan Ribu Menanti Akhir Pekanmu, Ini Link Aktif dan Trik Dapat DANA Kaget Tanpa Kendala

Dampak lain yang tak kalah penting adalah gangguan tidur. Penggunaan gawai hingga larut malam, terutama sebelum waktu istirahat, dapat menurunkan kualitas tidur secara signifikan.

Cahaya biru dari layar gawai mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur, sehingga remaja kesulitan tidur dan kualitas tidurnya menurun. Hal ini tentu saja akan memengaruhi konsentrasi dan kinerja mereka pada keesokan harinya, baik di sekolah maupun dalam aktivitas sehari-hari.

Meskipun demikian, Teresa menekankan bahwa media sosial tidak selalu berdampak negatif. Banyak remaja memanfaatkannya untuk belajar, membangun komunitas, serta mengekspresikan kreativitas mereka.

"Masalah muncul ketika penggunaannya tidak seimbang dan tidak terkelola," ujar psikolog yang kerap dipanggil Tesya itu.

Ia menilai peran orang tua dan lingkungan menjadi sangat penting untuk membantu remaja menggunakan media sosial secara sehat dan proporsional.

Dengan bimbingan yang tepat, remaja dapat belajar memilah informasi, membangun batasan waktu, dan menggunakan media sosial sebagai alat yang positif, bukan sebagai sumber tekanan atau kecemasan.

Load More