- Dari Bengkel Kecil ke Industri Nasional. Fikky membangun Futake dari nol hingga memiliki 300 karyawan dan ribuan produk manufaktur.
- Pernah terlilit utang, Fikky bangkit dan membuktikan keberanian lebih penting dari modal.
- Menurut Fikky, relasi, branding digital, dan AI menjadi kunci memenangkan persaingan bisnis.
SuaraJawaTengah.id - Dari desa, belum tentu akan biasa-biasa saja, justru dari desa inilah bisa mengukir mimpi dan bermanfaat untuk sesama.
Inilah Fikky Arif Ardianta, pria 37 tahun asal Krenekan, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten.
Local Hero Gerakan Solusi Indonesia asal Klaten itu, mengawali mimpinya dari nol atau bawah. Dia memulai kiprah dari sebuah bengkel permesinan dan pengecoran logam skala kecil.
"Benar dari nol. Semua saya sendiri mulai tahun 2000. Ya ngecat, ngepas dan dempul sendiri. Tak hanya itu, juga jadi seles sendiri," kata dia saat bertema Ngobrol Inspiratif : Anak Muda Bagian dari Solusi Negeri yang digelar Gerakan Solusi Indonesia di Pendopo Pemkab Klaten, Senin (8/6/2026).
Ya melalui bendera Futake Indonesia yang ia dirikan, usahanya kian berkembang. Dari pengecoran kecil-kecilan saperti wajan, produknya kini merambah ke tiga kategori utama berupa aneka mesin, alat kuliner, dan street furniture yang menyuplai kebutuhan infrastruktur lokal hingga nasional.
"Dulu belum ada karyawan, Alhamdulillah sekarang 300 orang. Ini berkat kerja keras dan keyakinan," ungkap dia.
Di hadapan peserta yang mayoritas anak muda, Fikky menekankan pentingnya keberanian memulai usaha, membangun jaringan, hingga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Saya dulu enggak pintar, tapi saya orangnya nekat. Jadi apa pun yang ada saya coba dulu. Yang penting berani dulu, yang penting mentalitas dulu,” ujar Fikky.
Fikky yang juga Ketua BPC Hipmi Klaten itu kemudian menceritakan awal perjalanannya saat masih kuliah di Yogyakarta. Ternyata tidak dimulai dari mesin, tetapi dia sempat membuka usaha lainnya.
Baca Juga: Transformasi Desa Tugu Selatan Lewat Program BRI Desa BRILiaN Dorong Ekonomi Lokal
Ia mengaku pernah merintis usaha jamur dengan kondisi keuangan yang serba terbatas hingga harus berutang demi membayar gaji karyawan.
“Waktu meletus Merapi, modal saya habis semua, karyawan off. Saya banyak berutang, kadang gaji karyawan harus utang dulu,” katanya.
Dari usaha jamur, Fikky kemudian beralih menjadi penjual mesin produksi seperti mesin paving dan penggiling daging. Ia mengaku memasarkan produk milik perakit mesin di kawasan Batur, Klaten, dan mengambil keuntungan sekitar 10 persen dari penjualan.
“Kalau banyak orang mengeluh modal dulu, itu 100 persen tidak benar,” ucapnya jatuh Bangun Jalankan Usaha
Menurut Fikky, pengalaman jatuh bangun dalam usaha justru menjadi modal penting untuk membangun perusahaan yang kini berkembang di bidang pengecoran logam, furnitur jalan, manufaktur, hingga infrastruktur publik.
“Di awal membangun usaha kita harus jadi CEO, Chief Everything Officer. Ngelas sendiri, ngecat sendiri, marketing sendiri, upload konten sendiri,” kata dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
BRI DPLK: Cara Buka Dana Pensiun dan Aktifkan Autopayment di BRImo
-
Polisi Libatkan Densus 88 dan Jatanras Usut Pembakaran Warung Mi dan Babi di Sukoharjo
-
Wapres Gibran Serukan Dukungan untuk Stabilitas Ekonomi Usai Pergantian Menkeu
-
20 Ribu Prompt Belum Tentu Jadi Hak Cipta, Pakar Soroti Batas Karya AI
-
UU Ketenagakerjaan Dikejar Deadline, Akademisi Soroti Minimnya Riset Empiris