- Tim Gempita Kabupaten Temanggung melakukan perekaman KTP elektronik bagi penyandang ODGJ dengan pendekatan persuasif menggunakan makanan dan rokok.
- Seorang kepala desa di Temanggung turut terjun langsung ke lapangan untuk membantu petugas membujuk warga melakukan perekaman data.
- Upaya jemput bola tersebut bertujuan memastikan kelompok rentan mendapatkan hak administrasi kependudukan demi akses layanan kesehatan dan sosial.
SuaraJawaTengah.id - Upaya menghadirkan layanan administrasi kependudukan yang merata sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Di balik proses perekaman KTP elektronik, ada cerita-cerita perjuangan yang jarang terlihat publik.
Salah satunya datang dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sebuah video yang diunggah oleh akun media sosial @wulan.semar memperlihatkan momen haru sekaligus unik saat tim pelayanan harus membujuk seorang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) agar bersedia melakukan perekaman KTP-el.
Yang membuat momen ini semakin menarik, bukan hanya karena tantangannya, tetapi juga karena keterlibatan langsung seorang kepala desa di lapangan. Berikut beberapa fakta menarik di balik aksi tersebut.
1. Pendekatan Persuasif Jadi Kunci Utama
Dalam proses pelayanan kepada kelompok rentan seperti ODGJ, pendekatan tidak bisa dilakukan secara kaku. Dibutuhkan kesabaran dan strategi khusus agar proses berjalan lancar.
Tim Gempita (Gerakan Melayani Penduduk Rentan Adminduk) yang bertugas di lapangan mengaku menggunakan berbagai cara untuk membujuk target agar mau direkam datanya.
Mulai dari memberikan uang kecil seperti Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, roti, jajanan, hingga rokok. Semua dilakukan sebagai bentuk pendekatan persuasif agar ODGJ merasa lebih nyaman dan tidak tertekan.
Pendekatan ini bukan sekadar “memberi”, tetapi bagian dari upaya membangun kepercayaan dalam situasi yang tidak mudah.
2. Tantangan Tak Terduga, Bahkan dari Rokok
Baca Juga: Viral, Skandal Oknum Kades di Demak, Diduga Selingkuh dengan Istri Orang di Kamar Kos
Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Dalam praktiknya, hal-hal kecil bisa menjadi tantangan besar.
Salah satunya adalah soal selera rokok. Tim di lapangan mengungkapkan bahwa tidak jarang ODGJ memiliki preferensi tertentu. Jika rokok yang diberikan tidak sesuai, proses membujuk bisa menjadi lebih sulit.
Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kepada ODGJ memang membutuhkan fleksibilitas tinggi dan pemahaman terhadap kondisi individu.
Momen ini bahkan menjadi sisi unik yang membuat cerita tersebut viral karena terasa dekat dengan realita di lapangan.
3. Kepala Desa Turun Langsung ke Lapangan
Salah satu hal yang paling disorot dalam video tersebut adalah kehadiran seorang kepala desa yang ikut terlibat langsung dalam proses.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Gita Wirjawan di UHN Tegal: Kepemimpinan Mendatang Harus Ditata Ulang, Jangan Mabuk Elektabilitas
-
Garuda Calling! Bek Kendal Tornado FC Youth Davin Armadheni Dipanggil Seleksi Timnas U-20
-
Sentuh Seribuan Warga, Kapolda Jateng Pimpin Langsung Bakti Kesehatan Gratis di Tegal
-
Neraca Dagang Surplus, Arus Logistik Nasional Terus Bergerak
-
IJD Jadi Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jawa Tengah