- Lebih dari seribu warga Desa Sambeng, Borobudur mengandalkan mata air Kali Ngudal sebagai sumber utama air bersih sehari-hari.
- Aktivitas penambangan pasir dan tanah uruk di sekitar lokasi mengancam kelestarian mata air yang telah dikelola warga.
- Warga Sambeng menolak keras rencana penambangan tersebut guna mencegah kerusakan lingkungan serta hilangnya akses air bersih bagi masyarakat.
SuaraJawaTengah.id - Lebih dari seribu warga Desa Sambeng, Borobudur menggantungkan hidup dari mata air kali Ngudal. Kini terancam penambangan pasir dan tanah uruk.
Tak jauh dari lokasi rencana penambangan tanah uruk di Sambeng terdapat sendang yang menjadi sumber air bersih. Mayortitas warga menyalur air lewat pipa-pipa dari mata air ini.
“Warga Dusun Kedungan 1, Kedugan 2, Kedungan 3, Sambeng 1 dan Sambeng 2 juga Gleyoran, semua nyalur air dari sendang ini,” kata Sukidi warga Dusun Sambeng 1 kepada Suara.com Selasa (15/14/2026).
Tidak hanya dimanfaatkan warga Sambeng, air sendang kali Ngudal mengalir jauh hingga desa tetangga, Candirejo. Ratusan warga Dusun Wonosari, Ngaglik, Kerekan, Pucungan, Kedungombo, Sangen, Brangkal, Mangundadi, dan Kaliduren ikut menikmati segarnya air dari sumber ini.
Seperti hendak pamer harta karun, Sukidi langsung menyanggupi permintaan saya untuk diantar ke lokasi mata air. Tiada hentinya dia berkisah bahwa sendang kali Ngudal menjadi jantung hidup warga Sambeng.
“Dulu mulanya di daerah sini ada yang mandi. Terus jadi ciri khas bahwa di lepen sini tidak boleh membuat kerusakan di daerah Sambeng.”
Sukidi mengaku tidak tahu pasti kapan mata air ini muncul. Dia hanya yakin bahwa sumber Ngudal sudah mengalir jauh sebelum cikal bakal masyarakat Sambeng lahir. “Dari zaman saya lahir sendang sudah ada. Tinggalan nenek moyang.”
Sendang semula masuk wilayah Dusun Sambeng 2. Lokasinya berada di lahan pribadi milik warga.
Ketika sebagian tanah dijual oleh ahli waris, sumber mata air dikecualikan. Lokasi sendang tidak ikut dijual, malah pengelolaannya diserahkan kepada warga agar dipakai sebagai sumber air bersih.
Baca Juga: Warga Sumbang Tolak Tambang Kaki Gunung Slamet: Lingkungan Rusak, Masa Depan Terancam!
Tanah Ulayat Desa
Warga kini menganggap sendang kali Ngudal sebagai lahan ulayat desa. Sebidang kawasan yang hak pemanfaatannya dikuasai secara bersama oleh seluruh warga desa.
Identitas sendang kali Ngudal sebagai ulayat desa dipertegas melalui keyakinan sebagian orang bahwa pemilik—penguasa—mata air adalah sosok mitos Nyi Gadung Melati.
Orang zaman dulu lumrah mengaitkan keberadaan sosok gaib dengan situs bersejarah maupun sumber daya vital yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Cerita angker sumber mata air, hutan larangan, maupun lokasi candi dan pemujaan sakral misalnya, bertujuan melindungi objek penting milik warga dari gangguan.
“Sendang ini asal usulnya dari putro wayah (anak keturunan) Nyi Gadung Melati. Sumber kekuatan mriki. Nyuwun sewu sing baurekso mriki—mohon maaf yang melindungi daerah sini—Nyi Gadung Melati. Jadi tanah ini (lokasi mata air) tidak ikut dijual,” kata kata Sukidi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Heboh Dugaan Kekerasan Seksual Anak di Pati, Bapak dan Kakak Tiri Jadi Pelaku
-
Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin
-
Tragedi Porprov Jateng 2026: Dua Atlet Berprestasi Meninggal Dunia, Polisi Periksa Keterangan Dokter