- KPK melakukan OTT di wilayah Sukoharjo, Solo, dan Wonogiri terkait dugaan pemerasan terhadap aparatur sipil negara setempat.
- Penyidik menyita barang bukti senilai Rp21,2 miliar berupa uang tunai berbagai mata uang asing serta emas batangan.
- KPK menetapkan Bupati Etik Suryani, Richard Tri Handoko, dan Tri Mulyo sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana korupsi.
SuaraJawaTengah.id - Kota yang selama ini dikenal sebagai "Kota Jamu" mendadak punya resep baru. Bukan lagi racikan kunyit asam atau beras kencur, melainkan ramuan klasik bernama "setoran berkala" yang akhirnya berujung Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ketua Umum Partai Anjing, Eko Haryanto, ikut menanggapi kasus tersebut dengan gaya satir.
"KPK blusukan malam-malam, eh malah ketemu brankas rasa sultan. Zaman sekarang main petak umpet sama KPK memang susah. Yang dicari ternyata bukan cuma orangnya, tapi juga isi brankasnya."
Drama dimulai ketika tim KPK bergerak di Sukoharjo, Solo, hingga Wonogiri. Alih-alih hanya menemukan berkas administrasi, penyidik justru membuka dua brankas yang berisi uang tunai, valuta asing berbagai negara, hingga emas batangan.
Nilai total barang bukti yang disita mencapai Rp21,2 miliar, terdiri atas uang rupiah, dolar Singapura, dolar Australia, dolar Amerika Serikat, yen Jepang, ringgit Malaysia, baht Thailand, serta 25 keping emas batangan dengan total berat 2,5 kilogram.
Kalau dihitung-hitung, isi brankas itu sudah lebih mirip layanan money changer plus toko emas mini daripada lemari penyimpanan dokumen.
SK Sakti dan Tradisi Setoran
Menurut KPK, perkara ini bermula dari dugaan pemerasan terhadap aparatur sipil negara melalui mekanisme pemotongan insentif upah pungut.
Dalam bahasa satire Partai Anjing, SK Bupati tersebut disebut sebagai "SK Sakti".
Baca Juga: Bupati Sukoharjo Terjaring OTT KPK, Ahmad Luthfi: Ikan Itu Busuknya dari Kepala!
"SK itu bukan sekadar surat keputusan. Itu seperti kartu member premium. Begitu keluar, sebagian insentif bawahan otomatis berpindah jalur."
KPK menduga pegawai Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah diminta menyetor sekitar 40 persen dari insentif yang diterima. Selain itu terdapat dugaan setoran rutin dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Ceramah Akhirat, Brankas Dunia
Yang membuat warganet ramai justru munculnya kembali video lama yang memperlihatkan sang bupati mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu mengejar urusan dunia.
Partai Anjing kemudian menyindir dengan gaya khasnya.
"Mungkin makna terdalam dari nasihat 'jangan terlalu memikirkan dunia' adalah: biar urusan emas batangan dan dolar asing cukup ditanggung sendiri."
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
Raih Predikat Prestisius Golden Medal 2026, Semen Gresik Pertahankan Bintang Lima TOP GRC
-
Pelabuhan Tanjung Emas Didorong Naik Kelas Jadi Gerbang Utama Ekspor-Impor
-
Kalah dari Persita, Fabio Lefundes: Java United FC Masih Berproses
-
Ketika Al-Qur'an Satukan Semua Golongan: Cerita Dibalik Megahnya MTQ Nasional di Jateng
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin