- Sebanyak 25 kabupaten dan kota di Jawa Tengah menghadapi status Awas kekeringan meteorologis pada awal September 2026.
- Kondisi tanpa hujan selama minimal 61 hari tersebut memicu ancaman krisis air bersih dan potensi gagal panen pertanian.
- BMKG juga menetapkan 10 daerah berstatus Siaga dan satu wilayah berstatus Waspada akibat ancaman kekeringan yang meluas.
BMKG menganjurkan petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca. Pilihan tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering dapat menjadi salah satu strategi, sementara lahan yang tidak memungkinkan untuk ditanami dapat diistirahatkan sementara.
Ancaman tersebut membuat kekeringan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi menyentuh **ketahanan pangan dan pendapatan petani**.
Kebakaran dan Penyakit Mengintai
Kondisi lingkungan yang semakin kering juga meningkatkan potensi kebakaran lahan dan lingkungan.
BMKG meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Material yang mudah terbakar juga perlu dibersihkan dari lingkungan.
Di sisi lain, berkurangnya ketersediaan air dapat menciptakan persoalan kesehatan.
Keterbatasan air untuk sanitasi, dehidrasi, serta meningkatnya paparan debu dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan, termasuk diare, penyakit kulit, dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
10 Daerah Berstatus Siaga, Satu Wilayah Waspada
Ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di 25 wilayah berstatus Awas.
Baca Juga: Omzet Tembus Ratusan Juta, UKM Jateng Corner di Bandara Ahmad Yani Siap Manjakan Pelancong
BMKG juga menetapkan 10 daerah berstatus Siaga, yakni Kota Tegal, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Surakarta, Pemalang, Batang, Kendal, Kabupaten Semarang, Temanggung, dan Boyolali.
Status Siaga menunjukkan hujan telah tidak turun selama lebih dari 31 hari. Dalam kondisi tersebut, sumber air permukaan seperti sumur dangkal, sungai, dan embung mulai berpotensi menyusut dan sektor pertanian mulai terdampak.
Sementara Kota Pekalongan berstatus Waspada, yang berarti hujan tidak turun sedikitnya 21 hari.
Pada tahap ini, masyarakat sudah diminta menghemat air dan membatasi penggunaannya untuk kebutuhan yang tidak mendesak.
Dengan sebaran wilayah tersebut, Jawa Tengah menghadapi ancaman kekeringan yang meluas pada awal September.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya