- dr. Dadang Rona Sasetyo di Semarang pada Jumat (4/9/2026) menyatakan cedera ACL sering terjadi karena gerakan berbalik arah.
- SMC RS Telogorejo mengadakan seminar kesehatan pada 3-5 September 2026 untuk mengedukasi masyarakat terkait penanganan cedera olahraga.
- Sekitar 26 juta orang per tahun mengalami cedera olahraga yang dapat ditangani melalui metode operasi sayatan kecil.
Puluhan Juta Orang Alami Cedera Olahraga
Persoalan cedera olahraga sendiri bukan perkara kecil.
Dadang menyebut sekitar 26 juta orang per tahun mengalami cedera olahraga.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan olahraga, meskipun memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, tetap memiliki risiko apabila dilakukan tanpa memperhatikan teknik, kondisi tubuh, serta faktor keselamatan.
Karena itu, cedera seharusnya tidak selalu dipandang sebagai konsekuensi yang harus diterima begitu saja oleh orang yang gemar berolahraga.
Pemahaman mengenai pencegahan, pengenalan gejala, hingga penanganan yang tepat menjadi penting agar seseorang tidak terjebak dalam siklus cedera berulang.
Edukasi Kesehatan Tak Berhenti di Ruang Praktik
Persoalan tersebut menjadi salah satu topik yang diangkat SMC RS Telogorejo dalam The Path to Healthy Life 2.0: 3-in-1 Mega Seminar & Talkshow 2026.
Kegiatan yang berlangsung 3-5 September 2026 di Auditorium SMC RS Telogorejo, Semarang, tersebut mengangkat beragam persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk cedera akibat olahraga.
Baca Juga: 777 Orang Diduga Keracunan MBG di Rembang, Operasional SPPG Lasem Disuspend
Program itu tidak hanya membahas penyakit secara medis, tetapi juga berupaya membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami berbagai sinyal tubuh yang kerap diabaikan.
Manager Public Relations dan Digital Marketing SMC RS Telogorejo, Andreas Yunian, mengatakan tantangan kesehatan masyarakat terus berkembang seiring perubahan gaya hidup.
“Perjalanan 101 tahun mengajarkan kami bahwa tantangan kesehatan terus bertransformasi seiring perkembangan zaman. Di era modern ini, keluhan tidak lagi melulu soal penyakit fisik berat, melainkan juga kecemasan digital, trauma berolahraga, hingga kesehatan anak yang kian kompleks,” ungkap Andreas.
Menurut dia, edukasi kesehatan diperlukan agar masyarakat tidak hanya datang mencari pertolongan ketika kondisi sudah memburuk.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat juga diberikan kesempatan mengikuti sesi One on One Consultation bersama dokter spesialis.
Public Relations Executive SMC RS Telogorejo, Berliana Bunga, mengatakan konsultasi tatap muka dihadirkan untuk membantu masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih personal mengenai keluhan kesehatan yang dialami.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama