Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 19 September 2026 | 14:23 WIB
Kapolsek Jati AKP Subkha bersama jajaran saat berbincang dengan kelima remaja yang membawa senjata tajam, Sabtu (19/9/2026). [ANTARA/HO-Humas Polres Kudus]
Baca 10 detik
  • Polisi memperketat patroli siber di Kudus setelah menemukan unggahan Instagram kelompok remaja membawa senjata tajam.
  • Petugas mengamankan lima remaja berinisial AI, MJW, DP, NFFR, dan AAA beserta sejumlah senjata di Kecamatan Jati.
  • Kelima remaja tersebut dikembalikan kepada orang tua masing-masing melalui pembinaan khusus bersama Dinas Sosial Kudus.

Kelima remaja juga diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan serupa.

“Mereka juga diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa,” ujar Subkhan.

Polsek Jati selanjutnya berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk mendukung proses pembinaan terhadap para remaja tersebut.

Cegah Tawuran Sebelum Pecah

Subkhan mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya kepolisian melakukan pencegahan sejak dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang melibatkan anak-anak dan remaja.

Patroli siber menjadi salah satu instrumen untuk mendeteksi potensi gangguan tersebut sebelum berkembang menjadi aksi di ruang publik.

Terlebih, kasus perkelahian remaja sebelumnya diketahui dapat berawal dari aksi saling ejek di media sosial.

Pola tersebut membuat ruang digital menjadi salah satu titik yang perlu diawasi dalam upaya pencegahan tawuran.

Unggahan yang menunjukkan keberadaan kelompok, penggunaan benda yang diduga senjata, maupun aktivitas yang berpotensi memicu konflik dapat menjadi informasi awal bagi polisi untuk melakukan langkah pencegahan.

Baca Juga: Melawan Petugas Saat Razia Petasan, 4 Pemuda di Kudus Diamankan Polisi

Dalam kasus di Kecamatan Jati ini, informasi dari media sosial kemudian ditindaklanjuti dengan penelusuran lapangan hingga polisi menemukan lima remaja dan sejumlah benda yang diduga digunakan sebagai senjata.

Polisi pun memilih mengedepankan pembinaan dengan melibatkan orang tua dan Dinas Sosial.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pencegahan tawuran remaja tidak hanya dilakukan ketika perkelahian sudah terjadi.

Ruang digital kini menjadi bagian dari titik awal pemantauan, sementara keluarga dan lingkungan sosial menjadi bagian penting dalam mencegah remaja kembali terlibat dalam aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan.

Load More