Kisah Sinden Paruh Baya Jatuh ke Pelukan Jejaka Pimpinan Grup Kuda Lumping

Iwan Supriyatna
Kisah Sinden Paruh Baya Jatuh ke Pelukan Jejaka Pimpinan Grup Kuda Lumping
Destoko dengan Rasmiati, sepasang suami istri dengan jarak usia 26 tahun. (Dokumentasi Pasutri)

Pernikahan itu menjadi perbincangan di jagad maya hingga media sosial seperti WhatsApp dan Facebook karena beda usia yang cukup jauh, hingga 26 tahun.

Suara.com - Pernikahan beda usia yang cukup jauh, baru saja dilangsungkan oleh pemuda Desa Panusupan Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Destoko (24) dengan seorang janda Desa Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja, Rasmiati (50) pada Rabu (21/8/2019).

Pernikahan itu menjadi perbincangan di jagad maya hingga media sosial seperti WhatsApp dan Facebook karena beda usia yang cukup jauh, hingga 26 tahun.

Orang tua Destoko, Sikun Siswadi dan Narsiti sendiri memastikan tidak mempermasalahkan, sehingga pernikahan keduanya dilangsungkan dengan restunya.

Kuda Lumping atau Jathilan [shutterstock]
Kuda Lumping atau Jathilan [shutterstock]

Keduanya, mengaku hanya mempertegas keyakinan Destoko, saat mengetahui anaknya menjalin hubungan asmara dengan Rasmiati.

“Sebagai orang tua kan mempertegas akan keyakinan Destoko (mengenai keniatannya menikahi Rasmiati). Setelah dia yakin, ya silahkan. Karena yang akan menjalani kan dia,” kata Sikun Siswadi kepada Suara.com, Sabtu (24/8/2019).

Siswadi yang juga pimpinan Grup Kuda Lumping atau dikenal ebeg pada grup Wahyu Mugi Lestari Desa Panusupan menceritakan, karir Destoko dan Rasmiati dalam dunia seni itu sebenarnya berbeda bidang. Destoko merupakan penari ebeg yang berada di bawah kepimpinannya.

Sedangkan Rasmiati, merupakan pesinden wayang yang kerap tampil dalam pementasan sejumlah dalang ternama di Banyumas dan sekitarnya.

Karena beda bidang itu, semula keduanya tidak saling kenal. Perkenalan keduanya berlangsung sekitar sebulan terakhir, saat grup ebeg-nya membutuhkan pesinden.

Dalam pencarian pesinden ebeg itu, kemudian menemukan Rasmiati. Sejak saat itu, Rasmiati pun kerap tampil bersama grup ebegnya, baik siang atau malam hari.

“Saya tertarik mengambil (jasa sinden Rasmiati) karena suaranya bagus,” kata Siswadi lagi.

Sementara itu, karena tidak memungkinkan berangkat sendiri, Rasmiati kemudian meminta bantuan antarjemput. Destoko yang masih bujang kala itu, yang kemudian menjadi tukang antarjemput dengan sepeda motornya.

Karena seringnya undangan pentas ebeg sejak saat itu, kebutuhan Rasmiati akan jasa antarjemput jadi semakin sering. Saling tukar nomor handphone hingga akun jejaring sosial dilakukan keduanya, untuk mempermudah komunikasi.

Lambatlaun, dari kedekatan itu kemudian menanamkan benih cinta antarkeduanya, hingga akhirnya diikrarkan janji suci pernikahan.

Semula, Siswadi mengaku tidak tahu, kalau Destoko dan Rasmiati saling jatuh hati. Karena hubungan sinden dengan penari ebeg itu awalnya hanya jasa antarjemput.

“Jadi istilahnya begitu. Suruh antarjemput sinden, eh ... ternyata malah sekalian hatinya,” kata Siswadi seraya terbahak.

Restu atas pernikahan Destoko dan Rasmiati juga dinyatakan ibunya, Narsiti. Ia mempersilakan anaknya menentukan keputusan memilih pasangan, selagi disertai ketulusan dan keseriusan.

“Terpenting bener-bener (serius) untuk kebaikan ke depannya. Orang tua mengikuti,” kata Narsiti.

Kontributor : Teguh Lumbiria

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS