![Tanah Nenek Sumiyatun yang disita bank. [Suara.com/Dafi Yusuf]](https://media.suara.com/pictures/original/2020/08/08/99980-tanah-sumiyatun.jpg)
Sampai lumpuh
Perjuangan Sumiyatun untuk melawan mafia tanah tak mudah. Mbah Tun pernah hampir lumpuh karena sawahnya tiba-tiba mau disita oleh bank.
Sebabnya, Mustofa yang menipunya tak membayar cicilan pinjaman kepada bank tempat ia menjaminkan tanah milik Sumiyatun.
"Mendengar tiba-tiba ada yang mau sita tanah saya tiba-tiba saya merasa lemas seperti hampir lumpuh," jelasnya.
Baca Juga:ATR BPN dan Polri Berhasil Selamatkan Rp 85 Miliar dari Kasus Mafia Tanah
Saat itu, Mbah Tun benar-benar kaget karena ia tidak pernah menerima uang hasil penjualan tanah peninggalan suaminya. Bahkan, Mbah Tun juga tak merasa menjual tanahnya.
Lebih kaget lagi, yang ingin sita tanah Mbah Tun adalah sebuah bank. Ia kaget karena Mbah Tun merasa tak pernah meminjan uang kepada bank, apalagi pinjam uang melalui agunan sertifikat tanah.
"Hati saya bergetar merasa kaget tidak bisa ngapa-ngapain. Saya tidak menerima uangnya. Tidak menjual, tidak meminjam uang kok ada kabar sawah saya mau disita," kata Mbah Tun dengan menitihkan air matanya.
Mbah Tun berharap keadilan akan berpihak kepadanya. Meski telihat tegar, berkali-kali Mbah Tun sakit karena memikirkan tanah yang hendak disita. Meski begitu, Mbah Tun tetap terus berjuang mendapatkan sawahnya.
"Ya mungkin karena berfikir terlalu keras saya jadi sering sakit-sakitan," ujarnya.
Baca Juga:Polisi Bekuk Mafia Tanah Bermodus Sertifikat Palsu dan e-KTP Ilegal
Jika sawah tersebut tetap disita, ia bingung tak lagi punya pegangan untuk mencari nafkah bagi dirinya di usia senja. Apalagi, tanah tersebut sangat berharga karena peninggalan suami tercintanya.
"Kalau di sita, saya tidak punya pegangan. Padahal saya sebenarnya ingin mandiri agar tidak merepotkan anak," ujarnya.
Kontributor : Dafi Yusuf