Tergantung karakter yang dibuat masing-masing anak. Namun jika dirinya yang membuat hanya membutuhkan waktu satu jam saja.

"Setelah jadi, terus cara mainnya ya bercerita saja, kaya mendongeng gitu. Tadi saya bawakan cerita tentang kemerdekaan dan covid-19. Tidak ada patokan khusus. Kaya bercerita sehari-hari tapi dengan media wayang klaras," ujarnya.
Selama ini menurut Nini Tarsih, keseharian anak hanya di rumah saja. Belajar menggunakan gawai, atau menonton televisi.
Tidak ada aktifitas yang mengasah kemampuan motorik anak agar lebih kreatif.
Baca Juga:Terus Bertambah, Anggota DPRD Banyumas Positif Covid-19 Jadi 5 Orang
"Anak-anak hanya di rumah saja, aktifitasnya terbatas karena Covid-19. Jadi saya panggil kesini tapi tetap wajib pakai masker," lanjutnya.
Salah satu anak yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, Aridifi Wela Putra (10) mengaku senang bisa ikut membuat wayang klaras.
Ini merupakan pengalaman pertamanya membuat mainan tradisional.
"Bosen dirumah terus, sudah pengin sekolah. Bikin mainan kaya gini biar nggak bosen. Tidak susah buatnya, cuma daun pisang dibuntel pake kain perca saja," kata siswa kelas 3 SD N Karanglo ini.
Selama ini saat belajar dengan sistem daring, ia meminjam gawai milik temannya. Karena tidak punya sendiri.
Baca Juga:Ada SD Mau Adakan KBM Tatap Muka, Nada Bicara Bupati Banyumas Meninggi
Jadi ia sedikit merasa kesulitan untuk mengikuti metode PJJ.