Setelah lokasi makam, kita akan menemui jalan menurun dengan tikungan tajam di ujungnya. Menurut Zarkoni, banyak kendaraan terlibat kecelakaan di lokasi ini.
“Disitu jalan cuma satu. Dulu kalau orang lewat belum buang uang, jalannya terlihat dua. Yang ke kanan itu jalan asli dan yang ke kiri kelihatannya jalan padahal jurang. Dalam jurang itu sekitar 25 meter lebih. Sering sekali jatuh ke situ.”
Di ujung turunan sekarang dipasang pembatas jalan dari beton setinggi pinggang orang dewasa untuk mencegah kendaraan masuk jurang. Meski begitu, kecelakaan masih kerap terjadi.
“Sekarang masih sering terjadi mobil nyelonong, tapi terhalang beton pengaman itu. Mungkin satu minggu, 1 atau 2 kali kecelakaan pasti ada,” kata Zarkoni.
Baca Juga:Kritik Sekolah Online, Ini Potret Anak-anak Belajar di Tepi Sungai Progo
Kebiasaan pengendara membuang uang ke kompleks makam dimanfaatkan warga sekitar. Warga biasanya menyisir tepi jalan mencari uang yang dibuang para sopir.
Kasiati warga Dusun Sabrang mengaku hampir tiap hari ke lokasi makam untuk mencari uang. Menurut Kasiati, uang yang dipungut dari tempat ini jumlahnya tidak pasti.
“Nggak pasti uangnya. Biasanya sopir-sopir truk yang suka membuang uang. Kebanyakan koin receh Rp1.000. Saya biasa datang sore, nunggu sampe jam 5,” kata Kasiati.
Menurut Kasiati ada kepercayaan bahwa hanya warga Desa Margoyoso yang boleh memungut uang dari lokasi makam. Pernah suatu kali Kasiati mengajak temannya dari luar desa untuk ikut mengumpulkan uang, tapi orang itu kemudian sakit.
Terlepas dari mitos-mitos, menjaga stamina dan kelayakan kendaraan menjadi kunci keselamatan di jalan. Sehingga perjalanan anda dan dapat bertemu orang-orang terkasih di kampung halaman.
Baca Juga:Sensasi Ngabuburit di Masjid Kabah Kampung Wisata Kota Magelang
Kontributor : Angga Haksoro Ardi