"Simbah ini kan tokoh yang dituakan. Sampai sekarang kalau ada kegiatan nggamel orang-orang juga masih di sini," kata Yani, salah seorang cucu Sodimedjo.
Upaya menggali cerita seputar peristiwa 1965 langsung dari mulut pelaku sejarahnya gagal kami lakukan. Selain gangguan pendengaran, Pak Tuo juga mulai pikun dan kehilangan banyak memori soal masa genting saat itu.
"Masih ingat. Tapi kalau sejarahnya itu bagaimana ya. Lha wong saya juga nggak tahu apa-apa," kata Pak Tuo.
Pak Tuo misalnya tak mampu mengingat apakah kampungnya sempat disatroni tentara setelah peristiwa Gerakan 30 September meletus.
Baca Juga:Menilik Kompleks Kamp Plantungan Tahanan Perempuan yang Dianggap Gerwani Era PKI
Pak Tuo juga lupa bahwa setelah beberapa tokoh Desa Wonolelo ditangkap, dia sempat lari dan bersembunyi ke Dusun Bentrokan yang letaknya lebih naik ke puncak Merbabu.
Samar-samar cerita soal tirakat Pak Tuo agar luput dari incaran aparat, kami dapat melalui keterangan cucunya, Yani.
"Mbah Sodimedjo dan Mbah Darmoredjo sama-sama tokoh masyarakat. Pak Tuo sempat bersembunyi ke Dusun Bentrokan. Minta perlindungan sama orang tua. Orang pinter," kata Yani.
Kekuatan lelaku itu yang konon menyebabkan Pak Tuo bisa lolos dari kejaran tentara. Padahal lereng Merapi dan Merbabu saat itu menjadi salah satu wilayah operasi pasukan RPKAD menumpas PKI di Jawa Tengah.
Korban Stigma
Baca Juga:Kabar PKI Siapkan Rp5 Triliun Demi Muluskan Jokowi 3 Periode, Cek Faktanya
Menjaring sisa-sisa simpatisan PKI, tentara menempatkan petugas telik sandi di kantor desa untuk mengawasi gerak-gerik warga.