“Biaya lebih mahal itu dirangkaian dan skill (melukis) yang kita nilai. Bukan buruh harian karena ini butuh keahlian.”
Efek Karambol Wisata Borobudur

Muslich senang karena belakangan ini warga sekitar Candi Borobudur mulai dilibatkan pada perayaan Waisak. Selain mendapat pesanan dekorasi payung, warga juga diminta menjual aneka produk usaha kecil.
Sudah sejak 2 minggu sebelum perayaan Waisak, panitia dan pekerja tinggal di homestay yang dikelola oleh warga sekitar candi. Lama waktu tinggal para tamu homestay menguntungkan perekonomian warga.
“Mereka mengeluarkan uang tidak hanya untuk homestay. Tapi juga untuk makan, kebutuhan sehari-hari. Artinya (keuntungan) ekonomi itu menyebar tidak cuma dinikmati pemilik homestay.
Para pemilik homestay tidak direkomendasikan untuk menyediakan sarapan. Mereka diarahkan untuk memesan makanan ke tetangga yang tidak memiliki kamar untuk disewa.
Muslich menyebut perputaran uang yang dinikmati warga kampung homestay kawasan Borobudur selama puncak perayaan Waisak, mencapai Rp50 juta.
“Hampir Rp50 juta, sama makan dan lain-lain. Itu hanya untuk dua hari (puncak perayaan Waisak). Belum lagi dari payung ini dan penari yang terlibat rangkaian acara Waisak,” kata Muslich.
Muslich berharap warga di sekitar Candi Borobudur dapat menangkap peluang usaha pariwisata. Candi sebagai magnet wisata, menarik ribuan turis setiap tahun.
Baca Juga:Jika Dico dan Raffi Benar-benar Maju di Pilgub Jateng, Bakal Jadi Kekuatan Politik yang Besar?
“Wisatawan itu kita nggak usah nyari sudah datang ke Borobudur. Jadilah pengusaha di daerah kamu sendiri. Jadi tuan rumah di tanah sendiri.”