Bau Busuk Pantura, Petani Tambak Demak Merugi Puluhan Juta: Limbah Pabrik Bunuh Ribuan Ikan!

Petani Demak merugi puluhan juta akibat ribuan ikan mati mendadak di tambaknya. Diduga limbah industri jadi penyebab. DLH turun tangan, pengguna jalan terganggu bau busuk.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 11 Juni 2025 | 08:33 WIB
Bau Busuk Pantura, Petani Tambak Demak Merugi Puluhan Juta: Limbah Pabrik Bunuh Ribuan Ikan!
Sukirman, 56 tahun, petani tambak di Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, melihat ribuan ikannya yang mati, Selasa (10/6/2025). (suara.com/Sigit AF)

Lebih lanjut, Sukirman menuturkan bahwa kejadian semacam ini bukan yang pertama kali menimpa tambaknya. Sebelumnya, ia telah mengalami tiga kali kematian ikan secara mendadak dalam skala besar.

Namun, sejauh ini tidak pernah ada tindak lanjut dari pihak berwenang. Tak ada penyelidikan mendalam, apalagi bantuan atau ganti rugi.

“Tidak pernah ada ganti rugi atau bantuan, saya orang kecil bisa apa,” katanya dengan raut wajah sedih.

DLH Turun Tangan

Baca Juga:5 Peran Penting Kota Pesisir Pantura Jawa Tengah dalam Penyebaran Islam

Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup melakukan pengecekan air di tambak di Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Selasa (10/6/2025). (suara.com/Sigit AF)
Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup melakukan pengecekan air di tambak di Desa Sayung, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Selasa (10/6/2025). (suara.com/Sigit AF)

Peristiwa kematian massal ikan ini akhirnya menarik perhatian publik, terutama setelah viral di media sosial karena bau busuk yang mengganggu pengguna jalan Pantura Semarang-Demak.

Menyikapi keluhan masyarakat dan pemberitaan yang muncul, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak akhirnya turun tangan dan melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi.

Petugas DLH melakukan pengambilan sampel air dari tambak Sukirman serta dari saluran pembuangan di sekitar lokasi. Dari hasil awal pengecekan, pH air berada di angka 7,83, yang menurut mereka masih tergolong dalam batas normal.

“Kondisi airnya kami cek masih normal,” ujar Safril, Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Demak.

Namun demikian, Safril menambahkan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab pasti dari kematian ikan-ikan tersebut.

Baca Juga:5 Peran Penting Kesultanan Demak dalam Penyebaran Islam di Jawa

Menurutnya, pada saat pengecekan, kondisi tambak sudah sempat terendam banjir rob, sehingga kemungkinan besar air yang tercampur dari berbagai sumber sudah mengubah kualitas air saat awal kejadian.

“Pengecekan kami kan sudah dua hari setelah kejadian, pas kejadian kami tidak tahu kondisi airnya seperti apa,” jelasnya.

“Dugaan sementara belum berani kami pastikan,” imbuh Safril.

Gangguan di Jalan Raya

Tak hanya petani yang dirugikan, peristiwa ini juga berdampak pada pengguna jalan. Bau busuk yang berasal dari bangkai ikan di tambak Sukirman, ditambah ikan-ikan mati yang ikut terbawa air rob hingga ke bibir jalan Pantura, menyebabkan ketidaknyamanan luar biasa.

Banyak pengendara terpaksa menutup hidung saat melewati wilayah tersebut, bahkan menimbulkan kemacetan karena banyak yang melambatkan laju kendaraan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak