- Gusti Purbaya, putra Pakubuwono XIII, resmi jadi Putra Mahkota sejak 2022 dan dikenal cerdas serta vokal.
- Lulusan Hukum Undip ini disiapkan memimpin Kraton Surakarta dan menjaga warisan budaya Jawa.
- Kritik sosialnya mencerminkan kepedulian rakyat, simbol generasi bangsawan muda yang progresif.
SuaraJawaTengah.id - Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro tengah menjadi sorotan publik setelah disebut sebagai calon penerus tahta Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sosok muda ini dikenal cerdas, vokal, dan punya perhatian besar terhadap kondisi bangsanya. Dikutip dari berbagai sumber di YouTube, berikut beberapa fakta menarik tentang calon raja muda ini.
1. Dikenal dengan Nama Gusti Purbaya
KGPAA Hamangkunegoro akrab disapa Gusti Purbaya. Ia adalah putra dari mendiang Kanjeng Sinuhun Pakubuwono XIII dan permaisuri Asis Minarni atau Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwono.
Sejak kecil, Gusti Purbaya sudah tumbuh di lingkungan keraton yang sarat dengan nilai-nilai adat dan tanggung jawab sebagai pewaris tahta.
Penobatannya sebagai Putra Mahkota dilakukan pada 27 Februari 2022. Sejak itu, publik menaruh perhatian pada langkah dan sikapnya sebagai generasi penerus kerajaan Jawa yang memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya nusantara.
2. Penerus Resmi Pakubuwono XIII
Wafatnya Pakubuwono XIII pada 2 November menjadi momen penting dalam sejarah Kraton Surakarta. Dengan posisi Putra Mahkota yang sudah disandang sejak 2022, Gusti Purbaya otomatis disebut-sebut sebagai calon pengganti resmi ayahandanya.
Penobatan ini bukan hanya simbol tradisi, tetapi juga bentuk kepercayaan keluarga besar Kraton Kasunanan Surakarta bahwa Purbaya memiliki kapasitas memimpin dan melanjutkan estafet kebudayaan Jawa yang luhur.
Baca Juga:Usai Direvitalisasi, Studio Bersejarah Lokananta Raup Pendapatan Rp825 Juta
3. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Di balik status kebangsawanannya, Gusti Purbaya punya latar akademik yang kuat. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, salah satu kampus terbaik di Indonesia. Tak berhenti di situ, ia juga dikabarkan tengah mempersiapkan studi S2 di Universitas Gadjah Mada.
Pilihan jurusan hukum dinilai relevan dengan perannya sebagai pemimpin keraton. Pemahaman hukum dan tata negara bisa menjadi bekal penting dalam mengelola lembaga adat sekaligus berinteraksi dengan struktur pemerintahan modern.
4. Pernah Jadi Sorotan karena Kritik terhadap Kondisi Bangsa
Nama Gusti Purbaya sempat mencuat di media sosial ketika ia mengunggah story berisi tulisan “Nyesel Gapung Republik” di Instagram. Unggahan itu memperlihatkan dirinya tengah duduk bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka
Banyak pihak menilai unggahan itu sebagai sindiran kepada Gibran, namun kabar tersebut segera dibantah oleh KPH Dhani Nur Adiningrat, Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta. Ia menegaskan bahwa unggahan itu bukan ditujukan kepada Wapres Gibran, melainkan sebagai bentuk keprihatinan pribadi Gusti Purbaya terhadap berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini.
5. Kritiknya Berangkat dari Kepedulian Sosial
Meski sempat menuai kontroversi, sikap kritis Gusti Purbaya justru memperlihatkan bahwa ia memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Unggahannya dianggap sebagai respon terhadap berbagai masalah yang tengah dihadapi Indonesia, seperti kasus Pertamax oplosan, korupsi timah, bagar laut, hingga tragedi PHK massal di PT Sritex, perusahaan besar yang juga berakar di Solo
Sikapnya itu mencerminkan generasi muda bangsawan yang tak sekadar menikmati status, tetapi juga peduli dengan kondisi sosial-ekonomi rakyat. Dalam konteks sejarah, raja Jawa memang memiliki tradisi “hamemayu hayuning bawana”, yakni kewajiban untuk menjaga dan memperindah dunia. Nilai inilah yang tampaknya masih dipegang oleh Gusti Purbaya.
Figur seperti Gusti Purbaya menjadi pengingat bahwa kraton bukan sekadar simbol masa lalu. Di tangan generasi muda yang berpendidikan dan kritis, kraton bisa menjadi ruang untuk melanjutkan peran sosial budaya yang relevan di masa kini.
Kritiknya terhadap berbagai permasalahan nasional bisa dibaca sebagai bentuk kasih sayang kepada negeri, bukan sekadar kontroversi di media sosial. Ia tumbuh di persimpangan antara tradisi dan modernitas, antara adat dan demokrasi, dan di sanalah tantangan sesungguhnya bagi seorang calon raja muda.
Jika kelak benar-benar naik tahta sebagai Pakubuwono XIV, publik tentu berharap Gusti Purbaya mampu memadukan kearifan lokal kraton dengan semangat perubahan zaman. Sosok muda, berpendidikan hukum, dan berani bersuara ia mungkin menjadi simbol transformasi peran keraton di era modern.
Kontributor : Dinar Oktarini