- BMKG merilis peringatan dini potensi cuaca ekstrem hujan lebat disertai petir melanda Jawa Tengah pada Senin, 23 Februari 2026.
- Penyebabnya adalah dinamika atmosfer termasuk sistem tekanan rendah di Samudra Hindia dan sirkulasi siklonik memicu awan hujan signifikan.
- Dampak utama meliputi potensi banjir di dataran rendah serta tanah longsor di daerah rawan, menuntut kesiapsiagaan masyarakat.
SuaraJawaTengah.id - Warga Jawa Tengah patut meningkatkan kewaspadaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah ini pada Senin, 23 Februari 2026.
Prediksi BMKG menunjukkan bahwa Jawa Tengah akan diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, bahkan berpotensi disertai kilat atau petir.
Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan tinggi dari masyarakat untuk menghadapi berbagai risiko yang mungkin timbul.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. "Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer, terdapat pembentukan sistem tekanan rendah di Samudra Hindia Barat Daya Lampung serta sirkulasi siklonik di beberapa titik seperti Kalimantan Barat dan utara Papua," ungkap Prakirawan BMKG, Lintang AN dikutip dari YouTube BMKG.
Baca Juga:7 Fakta Penembakan Suami Anggota DPRD Jateng di Pekalongan, Diduga Terkait Kasus Sensitif
Dinamika atmosfer ini secara langsung memicu pertumbuhan awan hujan yang signifikan, tidak hanya di Jawa Tengah tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Namun, fokus utama kali ini adalah dampak yang akan dirasakan oleh provinsi di jantung Pulau Jawa ini.
Ancaman Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah
Jawa Tengah, bersama dengan DI Yogyakarta dan Jawa Timur, termasuk dalam daftar wilayah di Pulau Jawa yang diprediksi akan mengalami "hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat."
Ini berarti curah hujan yang akan turun dalam periode tersebut akan sangat tinggi, berpotensi menyebabkan genangan air, banjir, hingga tanah longsor di daerah-daerah rawan.
Secara spesifik, BMKG juga merinci prakiraan cuaca untuk kota-kota besar. Kota Semarang, sebagai ibu kota provinsi, masuk dalam daftar "potensi hujan petir."
Baca Juga:Sanksi Seumur Hidup Diabaikan? Johar Lin Eng di Kursi VVIP Final Liga 4 Jateng
Ini mengindikasikan bahwa selain intensitas hujan yang tinggi, masyarakat juga harus mewaspadai sambaran petir yang bisa membahayakan. Hujan petir di kota besar seperti Semarang tentu akan berdampak pada aktivitas lalu lintas dan potensi gangguan pada infrastruktur listrik.
Sementara itu, kota-kota lain di Jawa Tengah yang berdekatan, seperti Yogyakarta, diprediksi akan mengalami "hujan ringan."
Meskipun demikian, dengan kondisi dinamika atmosfer yang memicu hujan lebat di wilayah sekitarnya, tidak menutup kemungkinan intensitas hujan di daerah-daerah tersebut juga dapat meningkat sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kewaspadaan tetap harus dijaga di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Dampak dan Kesiapsiagaan Masyarakat
Potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Jawa Tengah membawa sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Banjir menjadi ancaman utama, terutama di daerah dataran rendah, bantaran sungai, dan permukiman padat penduduk.
Warga yang tinggal di lereng perbukitan atau daerah rawan longsor juga harus ekstra hati-hati, mengingat curah hujan tinggi dapat melonggarkan struktur tanah dan memicu pergerakan tanah.
Selain itu, hujan deras yang disertai petir dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Potensi pohon tumbang, genangan air di jalan raya yang menghambat lalu lintas, hingga gangguan pada jaringan listrik dan komunikasi bisa saja terjadi.