Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi

Sulistiani, buruh tani tanpa lahan, hidup dari upah tanam & panen tak menentu. Jual kue saat jeda. Buruh tani rentan pangan & gizi meski pangan tersedia.

Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:55 WIB
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
Ilustrasi buruh tani saat bekerja. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Buruh tani seperti Sulistiani menerima upah tandur dibayar tunai per luasan lahan, panen melalui bagi hasil gabah kering 1:8.
  • Ketergantungan penghasilan musiman memaksa buruh tani mencari pendapatan tambahan, seringkali dengan membuat jajan pasar saat jeda.
  • Kondisi buruh tani mencerminkan tingginya angka kemiskinan perdesaan dan kerentanan pangan akibat terbatasnya daya beli.

Jika dagangan lagi lancar, Sulistiani mengaku bisa menghabiskan bahan baku tiga kilogram singkong. “Kalau sepi ya paling satu kilogram,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Uang hasil jualan kue bukan sekadar penghasilan tambahan. Sering kali justru jadi penyangga utama ketika tidak ada pekerjaan di sawah.

Pernah juga Sulistiani mencoba menjadi petani penggarap dengan sistem sewa lahan atau bagi hasil. Tapi hitungannya tidak menguntungkan.

Ada ongkos membajak sawah, biaya pupuk, dan risiko gagal panen. “Enakan jadi buruh saja,” katanya. Risiko puso ditanggung pemilik sawah, sedangkan buruh cukup menjual tenaga.

Baca Juga:Relasi Kuasa dalam Keluarga: Bapak di Kota Magelang Diduga Perkosa Anak Kandung

Potret Tani Desa

Kisah Sulistiani adalah potret jutaan buruh tani di Indonesia yang bergantung hidup di antara panen dan ketidakpastian. Menurut Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Tidar, Fera Ferbriana Sritutur, kondisi ini berakar pada struktur ekonomi perdesaan.

“Wilayah perdesaan identik dengan sektor pertanian. Masalahnya, sebagian besar petani kita adalah petani gurem, bahkan buruh tani yang tidak punya lahan,” kata Fera.

Pendapatan dari sektor ini bersifat musiman. Saat panen, ada pemasukan. Setelah itu, uang harus cukup untuk modal tanam berikutnya, sekaligus memenuhi kebutuhan hidup hingga panen kembali.

Jika tidak ada sumber pendapatan lain, penghasilan tersebut sering kali tidak mencukupi. Tingkat kemiskinan di perdesaan konsisten lebih tinggi dibandingkan perkotaan.

Baca Juga:Viral Petani Kudus Kuras Air Sawah Saat Banjir, Ini Penjelasannya yang Sempat Disalahpahami

Data BPS tahun 2025 mencatat, kemiskinan di desa mencapai 11,03 persen, sementara di kota 6,73 persen. Konsumsi per kapita pun timpang: Rata-rata Rp1,2 juta per bulan di desa, berbanding Rp1,8 juta di kota.

Kondisi ekonomi global yang lesu ikut menambah beban. Harga barang konsumsi dan input pertanian naik, sementara harga jual komoditas tidak melulu mengikuti.

Rentan Pangan

Dalam situasi tidak menentu, masyarakat desa cenderung menahan konsumsi. Mereka menyimpan uang seadanya sebagai cadangan. “Ini membuat mereka semakin rentan,” ujar Fera.

Kerentanan itu paling terasa pada kebutuhan pangan. Buruh tani yang tidak punya lahan sendiri, seperti Sulistiani, tetap harus membeli bahan pangan ketika stok beras menipis.

Dengan daya beli terbatas, pilihan mereka sering jatuh pada bahan pangan murah dengan kualitas gizi rendah. Perut kenyang, tapi kebutuhan nutrisi belum tentu terpenuhi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini