- Industri percetakan di Yogyakarta menghadapi penurunan pesanan akibat digitalisasi dan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah saat ini.
- Ketua PPGI menyoroti kemasan produk lokal Yogyakarta yang masih diproduksi di luar daerah sehingga merugikan pelaku usaha lokal.
- Pemkot Yogyakarta berkomitmen mengoptimalkan PDIN dan gelaran Jogja Printing Expo 2026 guna memperkuat daya saing industri kemasan lokal.
SuaraJawaTengah.id - Industri percetakan di Indonesia termasuk Yogyakarta kini tengah menghadapi tantangan berat akibat gempuran digitalisasi dan efisiensi anggaran pemerintah daerah.
Meski Yogyakarta dikenal sebagai pusat kuliner dan UMKM, fakta di lapangan menunjukkan bahwa potensi besar industri pengemasan atau packaging belum sepenuhnya dinikmati oleh pengusaha percetakan lokal.
Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Ahmad Mughira Nurhani, mengungkapkan keprihatinannya saat menemukan fakta bahwa kemasan produk ikonik Yogyakarta justru diproduksi di daerah lain.
"Bakpia banyak banget, dusnya harusnya dicetak di Jogja. Itu harusnya makanan teman-teman (percetakan) di Jogja. Tapi kemarin waktu saya berkunjung ke Lumajang, ada juga, bakpia Jogja dicetaknya di Lumajang, boksnya," kata Mughira kepada wartawan saat acara Jogja Printing Expo (JPE), Rabu (8/4/2026).
Baca Juga:KAI Commuter Tambah 12 Kali Perjalanan dari Stasiun Palur
Menurut dia ekosistem industri kemasan di Jogja seharusnya bisa lebih mandiri dan kuat. Apalagi sekitar 80 persen anggota PPGI adalah perusahaan UKM yang langsung dijalankan oleh owner-nya.
"Harapan kami dengan bangkitnya ekonomi di Jogja pasti akan berdampak kepada industri UKM di Jogja terutama industri percetakan," imbuhnya.
Namun persoalan semakin pelik bagi para pelaku usaha percetakan skala kecil. Pergeseran kebiasaan masyarakat yang serba digital serta kebijakan efisiensi anggaran di lingkup pemerintah membuat orderan cetakan tradisional seperti map dan amplop menurun drastis.
Ketua DPD PPGI DIY, Roni Sugiarto, memaparkan kondisi sulit yang dialami anggotanya. Banyak pengusaha kecil yang kini berjuang keras hanya untuk sekadar bertahan hidup di tengah minimnya pesanan pekerjaan.
"Industri-industri yang cetaknya kecil-kecil ini semua mengeluh, karena tidak ada order. Hal ini karena ya mungkin karena adanya efisiensi-efisiensi dari pemerintah daerah," ujar Roni.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait nasib para pekerja di sektor grafika. Roni menekankan bahwa industri percetakan kecil di Yogyakarta memiliki kontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja lokal yang jumlahnya mencapai puluhan orang per perusahaan.
"Kami ini mempunyai karyawan ya 50 ada yang 30 (karyawan), sekian banyak industri percetakan kalau banyak yang tutup kan kasihan itu, kasihan para karyawan kita ya harus bekerja di mana," tandasnya.
![Industri percetakan yang dihadirkan di Jogja Printing Expo 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Rabu (8/4/2026). [Suara.com/Hiskia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/08/59992-industri-percetakan.jpg)
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, tak menampik bahwa ada fenomena penurunan media cetak akibat persaingan dengan dunia digital.
Namun, ia melihat adanya peluang besar pada pergeseran pangsa bisnis menuju sektor pengemasan yang saat ini justru sedang berkembang pesat.
Hasto pun merasa terpacu dengan temuan mengenai banyaknya boks bakpia yang justru dicetak di luar kota. Ia berkomitmen untuk mendorong produktivitas industri lokal agar mampu bersaing dan mengambil kembali pasar tersebut.
"Bakpia-bakpia banyak sekali produknya tetapi ya ternyata nyetaknya (boks) kok ya masih ada di Lumajang. Ini terima kasih (informasinya), saya kira kita menjadi terpacu untuk bisa lebih produktif lagi," ucap Hasto.