- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, mendesak pemerintah membangun sumur bor di wilayah rawan kekeringan saat kemarau 2026.
- Penyediaan infrastruktur air dan perbaikan jaringan irigasi bertujuan menjaga stabilitas produktivitas pangan di tengah ancaman dampak fenomena El Nino.
- Produksi padi Jawa Tengah mencapai 4,69 juta ton hingga April 2026, namun rehabilitasi irigasi tetap krusial guna meningkatkan kesejahteraan petani.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah diminta mempersiapkan sumur bor di kantong pertanian rawan kekeringan di Jawa Tengah. Keberadaanya dinilai bisa menjaga ketahanan pangan di provinsi ini saat musim kemarau.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, perlunya langkah konkret guna mencegah kekeringan akibat peringatan semakin menguatnya El Nino.
"Sumur bor ini bisa menjadi solusi vital untuk menyediakan air irigasi yang stabil dan berkelanjutan, untuk memastikan lahan sawah dan perkebunan tetap produktif bahkan saat musim kemarau," ungkapnya.
Menurut Kakung, sapaan akrab Sarif, musim kemarau 2026 diprediksi memiliki tingkat risiko tinggi terhadap sektor pertanian akibat pengaruh El Nino.
Baca Juga:Sajajar Desak Kemenag Tindak Tegas Pelaku Pembubaran Kemah Ahmadiyah di Karanganyar
"Atas dasar itu, diperlukan langkah antisipatif yang terintegrasi, termasuk penguatan infrastruktur irigasi, optimalisasi sumber daya air, penerapan teknologi pertanian, serta koordinasi intensif antarinstansi guna menjaga stabilitas produksi pangan," sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Dengan adanya fasilitas seperti sumur bor, kata Kakung, diharapkan produktivitas pertanian tetap terjaga dan kesejahteraan petani semakin meningkat.

"Semua harus bersama menjaga air, menumbuhkan harapan, dan membangun masa depan pertanian yang berkelanjutan," katanya.
Capaian produksi padi di Jawa Tengah hingga April 2026 pun tergolong tinggi. Per Triwulan I 2026 telah mencapai 4.696.422 ton, atau sekitar 44,48 persen dari target tahunan sebesar 10,5 juta ton.
Sementara, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prognosa padi Jateng periode Januari – Juni 2026 sebesar 5.674.991 ton GKG. Angka tersebut menduduki peringkat 2 setelah Jawa Timur.
Baca Juga:Sarif Abdillah Dorong Destinasi Wisata Jateng Perkuat Standar Keselamatan Wisatawan
Namun Kakung juga mengingatkan, rehabilitasi irigasi masih menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung kelancaran pengairan sawah.
“Keberhasilan produksi beras tersebut juga didukung dengan perbaikan infrastruktur pertanian, khususnya jaringan irigasi yang masih banyak mengalami kerusakan di berbagai daerah,” jelas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Berbagai upaya rehabilitasi saluran irigasi juga harus mendapatkan pengawasan serius agar benar-benar tepat sasaran.
“Ini menjadi penting agar saluran irigasi yang dibangun dapat benar-benar berfungsi bagi kebutuhan petani, sehingga mampu meningkatkan produktivitas sawah maupun perkebunan secara optimal,” tandasnya.