- Ratusan massa PC PMII Kota Semarang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Jawa Tengah pada Rabu, 17 Juni 2026.
- Mahasiswa memprotes kebijakan ekonomi dan politik pemerintah, termasuk menuntut evaluasi program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih.
- Aksi berlangsung tegang dengan pembakaran poster dan upaya menjebol gerbang, sebelum akhirnya dibubarkan dengan ancaman demonstrasi susulan hari Jumat.
Sebelum ketegangan memuncak di depan gerbang, kader PMII UIN Walisongo, Ahmad Alfani Hasan, sempat naik ke atas mobil komando untuk membakar semangat massa dengan narasi perlawanan berdarah.
Ia menegaskan bahwa rezim saat ini adalah representasi nyata dari kolonialisme modern yang hobi meremehkan tangisan rakyat kecil.
"Kritik kita bukan lagi dibungkam, bukan lagi dikejam, tapi di-yenyenye-kan! Dan kita masih disuruh untuk sopan?" teriak Alfani, Rabu (17/6/2026).
"Tidak mungkin kita bisa sopan kepada orang yang jahat! Tidak mungkin kita bisa sopan kepada orang yang pernah menculik para aktivis sebagian daripada kita semua! Tidak mungkin kita sopan kepada orang yang merampas tanah rakyat di Papua!" lanjutnya berapi-api.
Baca Juga:Jateng Jadi Provinsi dengan Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi Nasional
Alfani kemudian membandingkan situasi krisis sosial-ekonomi di Indonesia dengan sejarah radikalisme Revolusi Prancis yang berdarah-darah demi meruntuhkan monarki yang korup.
"Jika seandainya kesejahteraan yang tidak bisa diaplikasikan di Indonesia ini terjadi di Prancis, maka kepala Prabowo halal untuk dipenggal! Saya katakan kepala Prabowo halal untuk dipenggal! Rakyat kita terlalu baik, rakyat kita terlalu sopan. Kritik disuruh sopan, kritik disuruh santun. Maka apakah boleh saya santun dalam memenggal kepala presiden? Sangat-sangat boleh bahkan halal!" kecam Alfani yang langsung disambut gemuruh takbir dari barisan massa.
Bagi kader PMII yang berbasis Manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), Alfani menegaskan bahwa diam di tengah kezaliman adalah bentuk pengkhianatan terhadap para pendiri organisasi.
"Perjuangan melawan rezim pada akhirnya bagi kita umat Islam bukan lagi sebagai keos-an, tapi fardhu ain! Jika seandainya kalian diam, maka kalian akan mempermalukan para muassis (pendiri) yang lantang melakukan perlawanan!" pekiknya.
Bawa Kajian Akademik 15 Kampus, Mahasiswa Kecewa Dilarang Masuk
Baca Juga:BRI Semarang A. Yani Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Demi Jaga Layanan Nasabah
Ketua Kopri PC PMII Kota Semarang, Fardha Nihayatul Ulum, mengungkapkan bahwa selama dua minggu terakhir, 15 komisariat kampus di bawah naungan PMII Semarang telah membedah instabilitas negara dan merumuskannya dalam sebuah naskah akademik untuk diserahkan ke Komisi E DPRD Jateng. Namun, niat baik itu diadang barikade ketat.
"Kami ingin masuk bukan untuk chaos atau rusuh. Kami ingin berdialog secara langsung menyampaikan kajian-kajian dari 15 kampus yang telah kami buat dari grassroots—sesuatu yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh para rezim," sesal Fardha saat ditemui Suara.com di sela-sela aksi.
Fardha tidak bisa menyembunyikan kekecewaan mendalam atas sikap arogan para pejabat daerah yang memilih bersembunyi saat rakyatnya menjerit di jalanan.
"Sampai saat ini belum ada respons sama sekali, baik dari Gubernur, Wakil Gubernur, Wali Kota, maupun DPRD. Sangat, sangat kecewa. Kami datang bawa hasil penelitian! Pesan spesifik kami untuk para pimpinan di Jawa Tengah: Silakan Bapak dan Ibu keluar temui kami! Kami akan sampaikan kajian ini supaya Anda tidak salah lagi dalam mengambil kebijakan yang mencekik rakyat," tegas Fardha.
Bedah Tuntutan: Soroti "Borok" Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih
Dalam kajian naskah akademik yang dibawa PMII, dua program prioritas andalan Prabowo-Gibran, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) , menjadi sasaran kritik paling tajam. Program-program populis tersebut dinilai gagal total, dipaksakan, dan justru hanya menguntungkan lingkaran elite penguasa.