- Akademisi Djoko Setijowarno menyatakan program motor listrik nasional berisiko menambah kemacetan perkotaan jika dibeli sebagai kendaraan pribadi tambahan.
- Pemerintah disarankan mengarahkan distribusi motor listrik ke wilayah perdesaan, daerah 3T, dan luar Jawa untuk efisiensi BBM.
- Keberhasilan industri nasional bergantung pada penguatan TKDN baterai, dukungan insentif tepat sasaran, serta pengembangan transportasi umum.
Djoko melihat motor listrik justru memiliki peluang besar di wilayah yang menghadapi persoalan distribusi BBM dan memiliki aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam.
Daerah penghasil mineral seperti Morowali, Morowali Utara, Banggai, Kolaka, Konawe, Bombana, Halmahera, Luwu Timur hingga sejumlah wilayah di Kalimantan, Sumatera dan Papua dinilai memiliki potensi pasar.
Di wilayah tersebut, penggunaan motor listrik dapat memberikan keuntungan ekonomi karena mampu mengurangi ketergantungan terhadap BBM sekaligus menekan biaya operasional.
Contohnya terdapat di Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Menurut Djoko, wilayah tersebut telah menggunakan kendaraan listrik sejak 2007, hampir dua dekade lalu, karena menghadapi tantangan distribusi BBM.
Baca Juga:Kampanye Akbar di GBK, Aksi Gibran Naik Motor Listrik Jadi Sorotan Publik
"Efisiensi logistik daerah, terutama di wilayah-wilayah yang menghadapi kesulitan distribusi BBM, penggunaan motor listrik memberikan nilai ekonomis yang signifikan bagi masyarakat lokal," katanya.
Menurut dia, pola tersebut dapat menjadi blue ocean strategy bagi Molinas: alih-alih bertarung habis-habisan di pasar perkotaan yang sudah padat, produk nasional dapat lebih dulu menguasai ceruk pasar di wilayah yang kebutuhan dan manfaat ekonominya lebih besar.
Bukan Sekadar Jual Motor
Di sisi industri, Djoko menilai Molinas memiliki peluang menjadi titik balik bagi otomotif Indonesia.
Program tersebut berpotensi mendorong Indonesia bergerak dari sekadar pasar konsumen menjadi produsen kendaraan listrik, sekaligus membuka peluang untuk menekan dominasi merek impor.
Baca Juga:Adu Klaim Kinerja Presiden Jokowi, Akademisi Diminta Buat Pernyataan, Siapa Aktornya?
Namun, tantangannya tidak ringan.
Produk China memiliki keunggulan dalam skala produksi, efisiensi rantai pasok, teknologi, hingga penguasaan ekosistem kendaraan listrik. Karena itu, motor listrik nasional tidak cukup hanya mengandalkan label produk dalam negeri.
Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), terutama untuk baterai dan komponen inti, menjadi salah satu kunci.
Ekosistem pendukung seperti stasiun pengisian atau penukaran baterai serta layanan purna jual juga harus dibangun secara serius.
"Keunggulan merek nasional akan bergantung pada seberapa jauh integrasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), khususnya lokalisasi produksi baterai dan komponen inti lainnya," ujar Djoko.
Jaringan servis dan kepastian ketersediaan suku cadang juga dapat menjadi modal untuk membangun kepercayaan konsumen.