- Pemerintah memprioritaskan pemulihan ekosistem gambut di empat provinsi untuk menekan risiko kebakaran hutan berulang.
- BPGMN bersama berbagai lembaga menyiapkan penyekatan kanal dan pembangunan embung guna menjaga kelembapan gambut.
- Lahan bekas kebakaran didorong menjadi produktif dengan tanaman adaptif untuk memberikan penghasilan masyarakat.
SuaraJawaTengah.id - Pemerintah mulai memprioritaskan pemulihan ekosistem gambut di empat provinsi untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang. Strategi yang disiapkan tidak hanya mengandalkan pemadaman api, tetapi juga mengembalikan kondisi gambut agar tetap basah melalui penyekatan kanal, penimbunan saluran air, hingga pemulihan lahan menjadi produktif.
Empat provinsi yang menjadi prioritas awal pemulihan tersebut yakni Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Penentuan wilayah mempertimbangkan kejadian kebakaran berulang, terutama kawasan yang telah mengalami kebakaran hingga dua atau tiga kali.
Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Mayjen TNI Sriyanto mengatakan, pemerintah telah melakukan pemetaan dan menyusun prioritas penanganan bersama sejumlah kementerian dan lembaga.
Hal tersebut disampaikannya saat kegiatan BPGMN di Desa Kartika Jaya, Kabupaten Kendal, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga:244 Personel Padamkan Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Helikopter Water Bombing Diupayakan
"Jadi, secara prinsip yang disampaikan oleh Bapak Kepala tadi kita sudah mulai memetakan. Kita sudah susun prioritas," kata Mayjen TNI Sriyanto.
Menurutnya, pemulihan ekosistem gambut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, melibatkan Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), BNPB, serta BMKG.
Dia menyebutkan, kegiatan pemulihan ekosistem gambut dijadwalkan mulai berjalan pada pekan berikutnya setelah penyusunan rencana kegiatan dan koordinasi antarlembaga.
Penanganan tersebut diprioritaskan pada kawasan yang memiliki riwayat kebakaran berulang agar risiko kejadian serupa dapat ditekan.
Kanal Penyebab Gambut Kering, Pemerintah Siapkan Sekat dan Penimbunan
Baca Juga:86 Personel Berjibaku Jinakkan Api di Lereng Gunung Sumbing, 1,72 Hektare Hutan Terbakar
Kepala BPGMN, Prof. Satyawan Pudyatmoko menjelaskan, salah satu persoalan utama yang menyebabkan lahan gambut rentan terbakar adalah kondisi lahan yang mengering akibat pembangunan kanal atau saluran air.
Kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan gambut menyebabkan cadangan air berkurang. Akibatnya, gambut menjadi kering dan lebih mudah terbakar, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Karena itu, pemerintah akan mendorong pembasahan kembali gambut melalui sejumlah intervensi, salah satunya pembangunan sekat kanal.
"Satu, dengan membuat sekat kanal. Jadi, saluran yang ada itu kita buat sekat agar airnya tidak mengalir secara deras, tapi tertahan di ekosistem gambut," kata Prof. Satyawan.
Selain penyekatan, penanganan juga dilakukan dengan menimbun kanal yang berada di kawasan lindung. Langkah tersebut bertujuan menahan air agar tidak terus mengalir keluar sehingga kondisi gambut dapat kembali terjaga kelembapannya.
Menurutnya, pemulihan hidrologis menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla. Sebab, gambut yang tetap basah memiliki risiko kebakaran lebih rendah dibandingkan lahan yang mengering.