SuaraJawaTengah.id - Kota kecil Magelang memiliki talenta-talenta seni jalanan yang luar biasa. Namun, mereka kurang mendapat tempat untuk mengaktualisasikan diri.
Masyarakat sering memandang seni jalanan sebagai vandalisme. Di-stigma berlebihan sebagai cara berkesenian yang merusak dan mengotori tembok-tembok kota.
Padahal jika didekati dan dipahami pelan-pelan, karya para seniman visual jalanan ini mengandung kritik sosial yang kreatif. Penyampaian pesannya jujur, dengan dialog yang sering satir dan penuh humor.
“Hidup kita ini kadang tidak enak, tapi bagimana bisa menikmatinya. Karena kalau tidak bisa menikmati hidup, adanya hanya mengeluh. Sambat. Kesel lah,” kata Gindring Waste, seniman jalanan Kota Magelang kepadaSuaraJawaTengah.id, Selasa (13/10/2020).
Karya-karya Gindring bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Magelang yang tinggal di kampung-kampung padat penduduk.
“Tema yang saya gambar dari kehidupan sehari-hari. Dari apa yang saya rasakan. Ketika saya tidak merasakan sesuatu, ya tidak mengambar,” kata Gindring.
Dari menggambar apa adanya itu, warga Kampung Bogeman, Kota Magelang ini kemudian memilih karakter tengkorak sebagai media berkomunikasi. Gindring senang mendengarkan musik-musik band punk yang kebanyakan mengambil simbol-simbol tengkorak sebagai ikon.
Band horror punk, Misfits salah satu yang paling kondang menampilkan karakter tengkorak sebagai simbol. Lirik dan gambar-gambar yang digunakan band asal New Jersey yang terbentuk tahun 1977 ini, banyak mengangkat tema fiksi ilmiah, horror, dan film porno.
“Aku pengen bikin tengkorak, tapi pakai style-ku. Jadi emang dari dulu style gambarku kayak gitu. Garis-garis tegas. Kok menarik gambar tengkorak ya. Semenjak itu jadi keterusan.”
Baca Juga: Duh! Ketua Komnas Perlindungan Anak Jateng Ditahan Polisi
Simbol tengkorak kata Gindring juga mewakili kejujuran yang menampilkan wujud asli manusia. Kulit dan daging tak lebih sekedar bungkus atau topeng.
“Sesungguhnya manusia ya tengkorak itu.”
Jujur berkomunikasi lewat seni visual jalanan bukan berarti tanpa risiko. Tahun 2017 Gindring sempat jadi buronan Satpol PP Kota Magelang karena kritiknya lewat gambar di tempat umum dianggap kelewatan.
Dia mengritik julukan Kota Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga.
“Saya buat ‘Kota Sejuta Bunga Bohongan’. Kenyataannya kan tidak ada. Karena saya tidak melihat ada banyak bunga di Kota Magelang,” kata Gindring polos.
Selang satu hari, muralnya yang berisi kritikan itu diblok Satpol PP. Tersiar kabar, Gindring sedang dicari.
Berita Terkait
-
Berkedok Bantu Anak Yatim, ATM Pensiunan ASN Ini Dikuras Komplotan Penipu
-
Kecewa dengan Aksi Anarkis, Warga Kartasura Pasang Poster Perdamaian
-
Warga Sragen Temukan Stampel Kuno, Diduga Berlaku di Era Paku Buwono XI
-
Pelaku Vandalisme Luapkan Kekesalan di Tembok Kota Tua Indramayu
-
Ganjar Buat Sekolah Virtual, Siswanya Anak Miskin yang Putus Sekolah
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
Terkini
-
Tragedi Kecelakaan Maut di Jogja: Pemotor Tak Berhelm Tabrak Nenek 80 Tahun hingga Tewas
-
Peserta UTBK Undip Berdalih Tak Paham Alat Dengar di Telinga, Polisi Beri Pembinaan
-
Ngeri! 5 Fakta Remaja Dibakar Paman di Semarang, Pemicunya Cuma Perkara Mandi
-
Rayakan Hari Kartini, BRI Gelar Srikandi Pertiwi untuk Perempuan Lebih Berdaya
-
3 Fakta Aksi Curang UTBK di Undip: Tanam Logam di Telinga Berakhir di Kantor Polisi