Budi Arista Romadhoni
Selasa, 02 Februari 2021 | 13:07 WIB
Keadaan rumah warga di Tambaklorok (Suara.com/Dafi Yusuf)

 Pakar tata kota asal Universitas Diponegoro (Undip), Bambang Setyoko mengatakan beberapa kawasan di sepanjang pantai utara Kota Semarang diakuinya memang mengalami land settlement atau ambles.

Menurutnya, penyebab amblesnya beberapa kawasan di Kota Semarang itu antara lain karena menjamurnya bangunan-bangunan, seperti hotel, mall dan shoping center.

"Penyebab lainnya adalah pengambilan air tanah yang tidak terkendali. Hal itu menyebabkan air yang ada di dalam tanah kosong," jelasnya.

Penurunan tanah tiap tahunnya, diantaranya di wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Bandarharjo, Johar, Kemijen dan Boom Lama.

Daerah-daerah tersebut dulunya merupakan roda perekonomian yang ada di Kota Semarang. Namun, keadaan tanah yang tidak stabil membuat banyak investor pikir ulang.

Efeknya, banyak investor yang cenderung memilih investasi di kawasan Kendal, Mranggen, Mijen dan juga Gunung Pati.

"Kan bisa dilihat banya PT besar seperti PT Kubata pindah di daerah Mijen. Hal itu disebabkan kawasan Semarang sudah tidak layak untuk dijadikan tempat berbisnis," tegasnya.

Sampai saat ini, Bambang belum bisa mengukur berepa dalam tanah yang ambles setiap tahunnya. Hal itu disebabkan perbedaan struktur tanah yang ada di masing-masing kawasan.

"Yang pasti setiap tahunnya tanah di tempat-tempat tadi ada yang ambles," tegasnya.

Baca Juga: Dugaan Pasien Dicovidkan, Ombudsman Jateng Semprot RS Telogorejo Semarang

Kontributor : Dafi Yusuf

Load More