Komentar lain juga menyinggung standar ganda dalam penilaian terhadap simbol visual. "Weruh gambar One Piece wedi, mbokso weruh gambar Soekarno-Hatta kemecer," tulis seorang warganet dengan nada sindiran dalam bahasa Jawa.
Sementara itu, pengguna lain mencoba memberi perspektif personal. "Saya melihat lambang itu cuma sebatas bendera di film kartun anime kesukaan saya, nggak lebih dan nggak ada makna lain. Tapi kenapa orang-orang di pemerintahan bisa mengartikan itu makar, membahayakan keselamatan negara dan lain-lain?"
Fenomena ini memperlihatkan benturan antara ruang ekspresi generasi muda dengan pendekatan pengawasan pemerintah. Di tengah derasnya arus budaya populer dari luar negeri, Indonesia belum sepenuhnya siap untuk menerima simbol-simbol yang dianggap tidak lazim dalam konteks lokal.
Daripada sekadar menghapus mural atau menurunkan bendera, pendekatan yang lebih dialogis dan edukatif semestinya bisa dijadikan solusi.
Pemerintah dan aparat dapat mengedukasi warga soal batas dan etika berekspresi di ruang publik tanpa serta-merta menghakimi atau mencabut hasil karya secara sepihak.
Karena pada akhirnya, mural One Piece itu bukanlah simbol makar, melainkan sekadar luapan ekspresi anak muda terhadap cerita petualangan fiksi yang mereka cintai.
Simbol tengkorak bertopi jerami itu lahir dari dunia imajinasi, bukan propaganda ideologi. Ia hadir sebagai bagian dari budaya populer global yang memberi warna pada cara generasi muda mengekspresikan diri.
Dalam negara demokrasi yang sehat, ruang untuk imajinasi dan kreativitas seharusnya tidak langsung dicap sebagai ancaman.
Justru dengan pendekatan yang terbuka dan dialogis, negara bisa menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi keragaman ekspresi warganya. Terlebih menjelang peringatan kemerdekaan, semangat kebebasan seharusnya dirayakan, bukan dibatasi.
Baca Juga: Praktik Prostitusi di Gunung Kemukus Sragen Terungkap, Ritual Seks Hidup Lagi?
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Bencana Alam Tak Bisa Dihitung dengan Kalkulator
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
Terkini
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin
-
Pos Kamling Berubah Jadi Lapak Judi Digital, Enam Orang Diciduk di Kudus
-
18 Tim Sepakbola Putri SD Ramaikan Junior Putri Cup 2026 di Semarang
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026