- API Tegalrejo, Magelang, merayakan khataman santri dengan pesta rakyat mengundang band rock God Bless pada 2026.
- Tradisi ini menunjukkan sikap pesantren berdialog dengan modernitas melalui kolaborasi kultur pesantren dan budaya lokal.
- Kegiatan pesta rakyat ini berdampak positif, termasuk edukasi lintas generasi dan peningkatan ekonomi warga sekitar.
Lebih dari itu, bagi Gus Yusuf kolaborasi API Tegalrejo dengan God Bless bukan sekadar menghadirkan hiburan. Melainkan bagian dari proses edukasi lintas generasi.
Dia menyebut generasi muda hari ini yang akrab dengan TikTok dan budaya instan, perlu dikenalkan pada karya para legenda yang membentuk wajah musik Indonesia.
Harus disadari menggelar konser musik di lingkungan pesantren masih sering dipandang janggal. Tapi justru di situ pesan yang ingin disampaikan.
Bahwa pesantren bukan ruang tertutup, melainkan ruang belajar yang hidup dan kontekstual.
Sikap terbuka itu tidak hanya terbaca sebagai keberanian simbolik dari dalam pesantren. Di luar pagar API Tegalrejo, respons datang dari mereka yang rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan momen langka ini.
Budi Jangkrik, warga Jepara, berangkat sejak pukul dua dini hari demi menyaksikan God Bless tampil di Lapangan Butuh, Desa Dlimas, Tegalrejo, Rabu (29/1) malam.
Selain penggemar God Bless sejak era 1980–1990-an, Budi juga musisi dan perajin gitar. Konser menurut Budi bukan sekadar nostalgia. “Menurut saya ini konteksnya spiritual.”
Budi melihat karya-karya God Bless sebagai suara kemanusiaan yang konsisten dikumandangkan lebih dari lima dekade. Nilai yang selaras dengan pesan moral dan spiritual pondok pesantren.
Islam Nusantara
Baca Juga: Terlupakan dalam Sejarah: Kisah Heroik Soeprapto Ketjik di Magelang, Berani Melawan Tentara Jepang
Budi menilai langkah API Tegalrejo mengundang God Bless, mencerminkan wajah Islam Nusantara yang lentur dan dialogis. Mengingatkannya pada metode dakwah Walisongo yang merangkul kebudayaan lokal.
“Ini seperti dihidupkan kembali ke era Walisongo. Syiar Islam itu dinamis, elastis, dan tidak kaku,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren yang mampu merangkul seni, musik, dan budaya, menunjukkan kedewasaan dalam memaknai keberagaman ekspresi manusia. Sikap menghargai itu lahir tanpa harus kehilangan nilai iman.
Konser God Bless di API Tegalrejo bukan anomali. Melainkan penanda bahwa pesantren bisa menjadi ruang saling sapa antara tradisi, seni, dan perubahan zaman.
“Islam itu sejuk. Tidak dipagari sekat-sekat kaku. Dan di sini saya melihat itu nyata,” kata Budi Jangkrik.
Tradisi menggelar pesta rakyat sebagai rangkaian khataman ngaji para santri API Tegalrejo, juga berdampak pada perekonomian warga. Warga membuka lapak-lapak jualan di sepanjang jalan menuju lokasi konser.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Kendal Tornado FC Tambah Amunisi, Birrul Walidain dan Andre Oktaviansyah Resmi Bergabung
-
Ungguli Jatim dan Jabar, Jateng Pimpin Penyaluran Kredit Perumahan Nasional
-
PT Bhimasena Power Indonesia Raih LKPM Award Kategori PMA pada Peluncuran BATANG INVESTA
-
Sindikat Pencurian Spesialis Rumah Lansia Dibongkar, Polresta Solo Tangkap Dua Pelaku
-
Semarang Capai UHC 100 Persen, BPJS Kesehatan Perluas Layanan Jantung hingga Kanker