- Enam siswa melakukan perundungan terhadap rekan sekelasnya, AN, di sebuah SD negeri di Brebes pada 10 April.
- Tindakan kekerasan dipicu penolakan ajakan batal puasa saat pengawasan guru di dalam kelas sedang tidak ada.
- Korban mengalami luka memar serta trauma, sementara pihak sekolah telah melakukan pemanggilan orang tua untuk pembinaan siswa.
SuaraJawaTengah.id - Kasus dugaan perundungan kembali terjadi di lingkungan sekolah dasar. Kali ini, seorang siswa berinisial AN di salah satu SD negeri di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi korban kekerasan oleh enam teman sekelasnya sendiri. Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi di dalam kelas dan diduga dipicu oleh persoalan sepele.
Berikut tujuh fakta penting yang terungkap, lengkap dengan keterangan dari pihak sekolah dan sumber lainnya:
1. Dipicu Penolakan Batal Puasa
Peristiwa ini diduga bermula dari ajakan beberapa siswa kepada korban untuk membatalkan puasa. Namun, AN menolak ajakan tersebut, yang kemudian memicu emosi hingga berujung pada aksi perundungan.
Kepala sekolah, Azzi Machawat, menjelaskan bahwa konflik kecil antarsiswa bisa berkembang jika tidak segera dikendalikan. “Awalnya hanya persoalan antar anak, tapi kemudian berkembang menjadi tindakan yang tidak seharusnya terjadi,” ujarnya.
2. Terjadi Saat Guru Keluar Kelas
Insiden berlangsung pada Jumat, 10 April, tepat setelah guru meninggalkan kelas usai memberikan pelajaran. Momen tanpa pengawasan ini dimanfaatkan oleh para pelaku.
Azzi membenarkan situasi tersebut. “Kejadiannya memang terjadi saat guru keluar dari kelas, sehingga tidak ada pengawasan langsung pada saat itu,” jelasnya.
3. Pintu Kelas Sengaja Ditutup Pelaku
Baca Juga: Di IKA UNAIR Jawa Tengah, Khofifah Soroti Langkanya Dokter Spesialis
Salah satu siswa yang diduga menjadi otak kejadian langsung menutup pintu kelas. Hal ini dilakukan agar aksi mereka tidak terlihat oleh guru maupun siswa lain di luar ruangan.
Menurut pihak sekolah, tindakan ini menunjukkan adanya unsur kesengajaan. “Ada indikasi perbuatan itu direncanakan secara spontan oleh anak-anak, termasuk menutup pintu kelas,” kata Azzi.
4. Dilakukan oleh Enam Siswa Sekaligus
Korban harus menghadapi enam siswa sekaligus dalam kejadian tersebut. Jumlah pelaku yang lebih banyak membuat korban berada dalam posisi yang sangat lemah.
Pihak sekolah mengakui jumlah pelaku cukup banyak. “Yang terlibat memang beberapa siswa, dan ini menjadi perhatian serius bagi kami,” ungkap Azzi.
5. Ada Dugaan Satu Pelaku Utama
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Duh! Guru dan Murid di Blora Jadi Korban Investasi Bodong, Ini 7 Faktanya
-
Miris! Tolak Batal Puasa, Siswa SD di Brebes Dihajar 6 Teman Sekelas, Ini 7 Faktanya
-
Buruan Daftar! Rekrutmen Manajer Kopdes Merah Putih 2026 untuk Jateng - Jogja Dibuka, Ini 7 Faktanya
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama