- Enam siswa melakukan perundungan terhadap rekan sekelasnya, AN, di sebuah SD negeri di Brebes pada 10 April.
- Tindakan kekerasan dipicu penolakan ajakan batal puasa saat pengawasan guru di dalam kelas sedang tidak ada.
- Korban mengalami luka memar serta trauma, sementara pihak sekolah telah melakukan pemanggilan orang tua untuk pembinaan siswa.
Dari informasi yang dihimpun, terdapat satu siswa yang diduga menjadi penggerak utama aksi tersebut. Ia bahkan disebut memaksa teman-temannya untuk ikut melakukan perundungan.
Azzi menyebut pihak sekolah masih mendalami peran masing-masing siswa. “Kami sedang menelusuri peran tiap anak untuk mengetahui siapa yang memulai dan bagaimana kejadian itu berlangsung,” jelasnya.
6. Korban Tak Melawan, Saksi Tak Berani Melerai
Dalam kondisi tertekan, AN hanya bisa pasrah saat kejadian berlangsung. Sementara itu, siswa lain yang menyaksikan tidak berani melerai karena takut menjadi sasaran berikutnya.
Fenomena ini juga menjadi perhatian pihak sekolah. “Anak-anak lain yang melihat kemungkinan merasa takut, sehingga tidak berani melerai,” ujar Azzi.
7. Korban Alami Luka dan Trauma, Sekolah Lakukan Penanganan
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami memar di bagian pelipis serta trauma psikis. Bahkan, ia sempat demam dan harus mendapatkan perawatan medis.
Pihak sekolah memastikan telah mengambil langkah penanganan. “Kami sudah memanggil orang tua siswa yang terlibat dan melakukan pembinaan. Kami juga sangat menyayangkan kejadian ini dan berupaya agar tidak terulang,” tegas Azzi Machawat.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan serius. Minimnya pengawasan, tekanan dari teman sebaya, serta kurangnya keberanian untuk melapor menjadi faktor yang memperparah situasi.
Baca Juga: Di IKA UNAIR Jawa Tengah, Khofifah Soroti Langkanya Dokter Spesialis
Sekolah diharapkan tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga membangun lingkungan yang aman dan suportif bagi siswa. Edukasi tentang empati, keberanian bersikap, dan konsekuensi dari tindakan kekerasan harus terus ditanamkan sejak dini.
Di sisi lain, peran orang tua juga sangat penting dalam memantau perkembangan emosional anak. Baik sebagai korban maupun pelaku, anak-anak membutuhkan pendampingan agar tidak terjebak dalam siklus perundungan yang berdampak panjang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tindakan bullying sekecil apa pun tidak boleh dianggap sepele. Pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara serius demi melindungi masa depan anak-anak.
Kontributor : Dinar Oktarini
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Sadis! Rampok Ponsel Tebas Telinga Korban hingga Nyaris Putus di Semarang
-
Bripka EJ Mubaligh Polres Wongiri Tersangka Kekerasan Seksual, Terancam Sanksi Kode Etik Pemecatan
-
Di Tengah Ancaman PHK, Investasi Baru di Jateng Buka 650 Lapangan Kerja
-
Musim Kemarau di Jateng Datang, Pendaki Gunung Diminta Tak Nyalakan Api Sembarangan