Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 17 April 2026 | 08:24 WIB
Ilustrasi kasus bullying yang dilakukan anak SD. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Enam siswa melakukan perundungan terhadap rekan sekelasnya, AN, di sebuah SD negeri di Brebes pada 10 April.
  • Tindakan kekerasan dipicu penolakan ajakan batal puasa saat pengawasan guru di dalam kelas sedang tidak ada.
  • Korban mengalami luka memar serta trauma, sementara pihak sekolah telah melakukan pemanggilan orang tua untuk pembinaan siswa.

SuaraJawaTengah.id - Kasus dugaan perundungan kembali terjadi di lingkungan sekolah dasar. Kali ini, seorang siswa berinisial AN di salah satu SD negeri di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi korban kekerasan oleh enam teman sekelasnya sendiri. Peristiwa ini menjadi perhatian karena terjadi di dalam kelas dan diduga dipicu oleh persoalan sepele.

Berikut tujuh fakta penting yang terungkap, lengkap dengan keterangan dari pihak sekolah dan sumber lainnya:

1. Dipicu Penolakan Batal Puasa

Peristiwa ini diduga bermula dari ajakan beberapa siswa kepada korban untuk membatalkan puasa. Namun, AN menolak ajakan tersebut, yang kemudian memicu emosi hingga berujung pada aksi perundungan.

Kepala sekolah, Azzi Machawat, menjelaskan bahwa konflik kecil antarsiswa bisa berkembang jika tidak segera dikendalikan. “Awalnya hanya persoalan antar anak, tapi kemudian berkembang menjadi tindakan yang tidak seharusnya terjadi,” ujarnya.

2. Terjadi Saat Guru Keluar Kelas

Insiden berlangsung pada Jumat, 10 April, tepat setelah guru meninggalkan kelas usai memberikan pelajaran. Momen tanpa pengawasan ini dimanfaatkan oleh para pelaku.

Azzi membenarkan situasi tersebut. “Kejadiannya memang terjadi saat guru keluar dari kelas, sehingga tidak ada pengawasan langsung pada saat itu,” jelasnya.

3. Pintu Kelas Sengaja Ditutup Pelaku

Baca Juga: Di IKA UNAIR Jawa Tengah, Khofifah Soroti Langkanya Dokter Spesialis

Salah satu siswa yang diduga menjadi otak kejadian langsung menutup pintu kelas. Hal ini dilakukan agar aksi mereka tidak terlihat oleh guru maupun siswa lain di luar ruangan.

Menurut pihak sekolah, tindakan ini menunjukkan adanya unsur kesengajaan. “Ada indikasi perbuatan itu direncanakan secara spontan oleh anak-anak, termasuk menutup pintu kelas,” kata Azzi.

4. Dilakukan oleh Enam Siswa Sekaligus

Korban harus menghadapi enam siswa sekaligus dalam kejadian tersebut. Jumlah pelaku yang lebih banyak membuat korban berada dalam posisi yang sangat lemah.

Pihak sekolah mengakui jumlah pelaku cukup banyak. “Yang terlibat memang beberapa siswa, dan ini menjadi perhatian serius bagi kami,” ungkap Azzi.

5. Ada Dugaan Satu Pelaku Utama

Load More