Awas Kualat! Mitos Angker Sukses Merawat Alam di Desa Margoyoso Magelang

Mempertahankan cerita mitos angker, desa di magelang ini sukses menjaga alam agar tetap lestari

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 11 Februari 2021 | 14:15 WIB
Awas Kualat! Mitos Angker Sukses Merawat Alam di Desa Margoyoso Magelang
Pemerintah Desa Margoyoso memelihara mitos pohon besar yang angker. Kegiatan tanam pohon kini digiatkan untuk menjaga ketersediaan cadangan air. [Dok. Pemerintah Desa Margoyoso]

SuaraJawaTengah.id - Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Magelang punya cara unik amenjaga kelestarian lingkungan dan mata air. Mitos angker selalu dimunculkan demi menjaga pohon besar sebagai sumber air.  

Pemerintah Desa Margoyoso memelihara mitos angker itu, bahwa siapa saja yang menebang pohon besar sembarangan, dapat diganggu makhluk halus atau kualat.

Kepala Desa Margoyoso, Adi Daya Perdana mengatakan terpeliharanya mitos angker itu berhasil mencegah penebangan pohon secara liar. Warga tidak sembarangan menebang pohon, apalagi yang sudah berusia puluhan tahun.  

“Kemudian kita munculkan mitos. Memang di masyarakat sudah ada mitos terkait pohon yang rimbun atau besar itu kalau ditebang khawatirnya ada istilahnya kesurupan. Apalagi pohon beringin,” kata Adi Daya saat ditemui di kantor Desa Margoyoso, Kamis (11/2/2021).

Baca Juga:Cuaca Ekstrem, BMKG: Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Diminta Waspada

Pemerintah Desa Margoyoso memelihara mitos pohon besar yang angker. Kegiatan tanam pohon kini digiatkan untuk menjaga ketersediaan cadangan air. [Dok. Pemerintah Desa Margoyoso]
Pemerintah Desa Margoyoso memelihara mitos pohon besar yang angker. Kegiatan tanam pohon kini digiatkan untuk menjaga ketersediaan cadangan air. [Dok. Pemerintah Desa Margoyoso]

Menurut Adi, akar pohon-pohon besar efektif untuk menangkap air. Mata air yang biasanya muncul di sekitar pohon besar kemudian dapat dimanfaatkan warga sebegai sumber air bersih.

“Ternyata (mitos) masih efektif. Dalam artian warga tidak sembarangan menebang pohon. Misalkan terpaksa menebang pohon, bukan jenis yang baik menangkap air seperti pohon besiar misalnya,” ujar Adi  Daya.

Adi Daya menjelaskan, mitos larangan menebang pohon besar atau tua itu telah ada sejak jaman dulu dan diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah desa kemudian menegaskan kebijakan menjaga lingkungan itu ke dalam sejumlah peraturan desa.  

Desa Margoyoso antara lain memiliki peraturan yang mengharuskan warga mengajukan izin sebelum menebang pohon, meskipun berada di lahan milik sendiri.

“Perdes yang dulu itu memang harus ada izin dari desa untuk menebang pohon. Terutama untuk pohon kayu seperti mahoni dan sebagainya.”

Baca Juga:BMKG Kembali Berikan Peringatan Dini, Potensi Cuaca Ekstrem di Jateng

Pemerintah Desa Margoyoso memelihara mitos pohon besar yang angker. Kegiatan tanam pohon kini digiatkan untuk menjaga ketersediaan cadangan air. [Dok. Pemerintah Desa Margoyoso]
Pemerintah Desa Margoyoso memelihara mitos pohon besar yang angker. Kegiatan tanam pohon kini digiatkan untuk menjaga ketersediaan cadangan air. [Dok. Pemerintah Desa Margoyoso]

Mereka juga merancang aturan yang mewajibkan pasangan yang akan menikah di Desa Margoyoso untuk menyumbang bibit pohon. Bibit yang disumbangkan dapat berupa jenis pohon konservasi atau buah.

“Salah satu syarat pernikahan diantaranya calon mempelai menyumbangkan bibit tanaman. Tanaman konservasi atau buah yang dikumpulkan di bank pohon. Suatu saat kita akan gunakan untuk penghijauan, tinggal mengambil di bank pohon itu,” kata Zarkoni, Satgas Pro Iklim Desa Margoyoso.

Menurut Kepala Desa Margoyoso, Adi Daya Perdana, terdapat sedikitnya 88 mata air di wilayahnya yang sudah terdata. Mata air itu terdapat di blok Silumut yang berbatasan dengan Desa Kalijambe yang masuk wilayah Kabupaten Purworejo.

Warga Kalijambe ikut menarik air dari blok Silumut menggunakan pompa yang dialirkan melalui pipa PVC. Sekitar 250 kepala keluarga warga Desa Kalijambe memanfaatkan sumber air tersebut.

“Dulu tiap musim kemarau pasti kami meminta droping air dari BPBD. Tapi alhamdulillah mulai tahun 2018 kami sudah tidak bergantung pada droping air lagi. Sudah ada PAM swadaya masyarakat yang bisa mencukupi warga di semua dusun di Desa Margoyoso.”

Kepala Desa berharap kesadaran masyarakat terkait penghijauan terus tumbuh. Menjaga pohon-pohon besar berarti juga menjamin keberadaan mata air yang dapat dinikmati terus hingga ke anak cucu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak