SuaraJawaTengah.id - Abrasi di pesisir utara pulau jawa memang sudah menjadi perhatian banyak pihak. Jika tak tertangani, pantura diprediksi akan tenggelam.
Dilansir dari Solopos.com, abrasi yang terjadi di pesisir panti utara yang paling para adalah mengancam wilayah Kabupaten Demak. Kawasan tersebut diperkirakan tenggelam dalam 10-20 tahun lagi.
Abrasi atau pengikisan daratan oleh gelombang alut yang terjadi di Demak sangat parah. Dikutip dari lrsdkp.litbang.kkp.go.id, Rabu (26/5/2021), laju perubahan garis pantai di Kecamatan Sayung, Demak, selama 20 tahun terakhir terlihat memprihatinkan. Abrasi tersebut diperkirakan merupakan yang paling besar dan parah di Jawa, bahkan Indonesia.
Luas kawasan yang terkena erosi mencapai 2.116,54 hektar yang menyebabkan garis pantai mundur sepanjang 5,1 kilometer dari garis pantai di tahun 1994 lalu.
Baca Juga:Heboh Info Jalur Tikus di Pantura Bocor ke Facebook, Polisi Bilang Begini
Dari data yang dikumpulkan serta dianalisis secara deskriptif diketahui bahwa daerah pesisir di Kecamatan Sayung yang terkena banjir rob pada ketinggian 0,25 m adalah Desa Sriwulan, Desa Surodadi, Desa Bedono dan Desa Timbulsloko.
Profil Kabupaten Demak di laman sippa.ciptakarya.pu.go.id menyebutkan bahwa laut Demak memiliki potensi luar biasa dalam bidang perikanan, namun dibayangi dengan daya rusak yang besar pula. Desa Bedono di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menjadi wilayah yang terdampak abrasi paling parah.
Bahkan Desa Sidogemah dan Desa Purwosari yang berada tepat di bawahnya juga terkena dampak abrasi Desa Bedono. Kini ada dua dusun di Desa Bedono, Demak yang sudah tenggelam dan menjelma menjadi lautan.
Penjaga Terakhir
Menariknya, masih ada satu keluarga yang memilih bertahan di dusun yang tenggelam di pesisir Demak tersebut. Pasangan Rukani dan Pasijah namanya.
Baca Juga:Ribuan Pemudik Motor Terjebak Macet di Jalur Pantura Subang
Mereka memilih bertahan merawat dusun yang tenggelam daripada pindah ke tempat yang sudah disediakan pemerintah.
"Diparingi tanah teng cedak ratan, ken mbangun pun disediani pasir, semen, bata artane sejuta. Tapi kula boten purun. (Diberi tanah dekat jalan raya, disuruh membangun rumah sudah disediakan pasir, semen, bata dan uang satu juta. Tapi saya tidak mau," ungkap Pasijah dalam video yang diunggah di channel Youtube Ari Bubut.
Pasijah mengaku mendapat wangsit menjadi penjaga dusun yang tenggelam tersebut. Demi menyambung hidup, mereka membuat persemaian bibit mangrove. Mereka juga biasa menangkap ikan dilaut yang kemudian dijual ke Pasar Sayung.