alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sempat Jaya Era 1970-an, Produsen Wajan di Kota Semarang Kini Nyungsep

Budi Arista Romadhoni Kamis, 09 September 2021 | 10:12 WIB

Sempat Jaya Era 1970-an, Produsen Wajan di Kota Semarang Kini Nyungsep
Produsen logam di Barito, Kota Semarang (suara.com/Dafi Yusuf)

Produsen logam atau sering dibuat wajan dan alat masak di Kota Semarang kini harus menelan pil pahit, mereka bangkrut dan tak lagi jaya seperti tahun-tahun sebelumnya

SuaraJawaTengah.id - Suara benturan baja terdengar saling bersahutan dari kejauhan. Irama benturan baja tersebut berasal dari sudut rumah yang dijadikan ruko dekat bantaran sungai Banjir Kanal Timur, Kota Semarang

Ya, lokasi tersebut merupakan bekas pusat produsen logam terbesar di Jetang pada era 1970-an. Maklum, tempat tersebut sempat menjadi  rujukan penjual barang kebutuhan rumahan berbahan dasar logam dari berbagai pelosok kota di Jateng.

Sebelum dilakukan pembongkaran, nyaris di sepanjang jalan yang juga disebut sebagai kawasan Barito itu terpajang rapi peralatan rumah tangga berbahan logam.

Dulu, perkakas yang paling banyak dipajang adalah kompor minyak. Lalu ada oven, ceret, dandang, wajan, mesin penggiling, dan banyak pernak-pernik logam lainnya.

Baca Juga: 3 Tips Hilangkan Bau Makanan di Panci, Ternyata Cuma Butuh Bahan Ini

Salah satu penjual logam, Kusmiati (52) mengatakan, di Barito memang pernah menjadi pasar logam terbesar di Jateng. Dia mengaku, mempunyai pelanggan dari luar kota yang selalu pesan kepadanya sebelum dilakukan pembongkaran.

"Dulu banyak yang pesen. Bahkan saya sampai ambil ke penjual lain. Namun setelah dipindah jadi sepi. Pandemi seperti ini hanya mengandalkan uang tabungan, " jelasnya saat ditemui di lokasi, Kamis (9/9/2021).

Selain memproduksi pernak-pernik logam untuk rumahan, di tempat itu pula juga terdapat produsen kompor minyak yang sempat ramai sebelum adanya kompor gas. Bahkan pada masa kejayaan kompor minyak, dia mempunyai banyak kariyawan yang ikut membantu.

Selain pengrajin logam, di Barito juga banyak yang membuat kompor minyak yang tak kalah terkenal pada waktu  itu. Pemesannya juga tak hanya dalam kota, namun juga dari luar kota juga.

"Saya dulunya juga membuat kompor minyak, sampai banyak karyawan. Namun karena ada kompor gas jadi tak jual semua," ujarnya.

Baca Juga: Banyak yang Penasaran, Temuan Wajan Raksasa di Bantul Kini Jadi Tempat Wisata Dadakan

Menurutnya, masa kejayaan perkakas logam di Barito agaknya sudah mulai turun. Bahkan, selama menjalani bisnis logam penjualan produk-produk bikinannya juga sudah berkali-kali mengalami pasang surut.

“Bisnis ya kadang ramai, kadang sepi, apalagi semenjak Barito digusur,” ungkapnya sembari melayani pembeli.

Dia beranggapan, banyak pelanggan yang bingung karena lokasi penjual logam Barito dipindah ke dua lokasi. Selain itu, lokasi untuk jualan di tempat yang baru juga tak strategis.

"Jadi kalau saya untung punya rumah, jadi bisa jualan di depan rumah," ujarnya.

Hal yang sama dikatakan produsen logam lainnya, Endang. Produsen logam  di Barito banyak berkurang pelanggannya. Dari bisnis tersebut, hanya bisa digunakan untuk makan. Penurunan pelanggan sudah dia rasakan sejak pasar logam di Barito dipindah.

"Kalau saya sudah  jualan dari bapak saya, ini meneruskan jadi tau ketika jaya hingga mengalami penurunan,"  paparnya.

Apalagi, lanjutnya, kondisi pandemi saat ini pemasukannya dari bisnis logam berkurang hingga 90 persen. Dia berharap agar pasar logam yang berada di Barito dikembalikan seperti semula.

"Di sini itu bersejarah lho, dulu terbesar di Jateng. Banyak pemesan yang dari luar kota juga," imbuhnya.

Kontributor : Dafi Yusuf

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait