SuaraJawaTengah.id - Pertandingan persahabatan AHHA PS Pati dengan Persiraja Banda Aceh dinodai dengan aksi pemain yang tak sportif. Hal itu tentu saja menjadi sorotan publik.
Komunitas suporter Balayoda Pati menilai insiden di pertandingaan AHHA PS Pati dengan Persiraja Banda Aceh tersebut sangat mencoreng persepakbolaan di tanah air.
"Bagi saya itu mencoreng dan melanggar fair play, terlalu kasar juga," kata Ketum Balayoda, Airlangga Gangga Caraka saat dihubungi Suara.com, Kamis (9/9/2021).
Ia menyebut respon Manajemen AHHA PS Pati dalam memberikan sanksi kepada dua pemainnya, yakni Syaiful Indra Cahya dan Zulham Zamrun sudah sesuai jalur.
Baca Juga:AHHA PS Pati Main Kasar, Atta Halilintar Minta Maaf dan Sanksi Pemain
"Toh itu sudah ada punishment dari AHHA PS Pati, itu sudah langkah tegas dari manajemen, mereka sudah dipulangkan ," jelasnya.
Hanya saja, Airlangga masih gamang apa hukuman yang dimaksud dari pihak manajemen kepada kedua pemain Tim Liga 2 tersebut.
"Tetapi kalau dipulangkan itu, maksudnya gimana? Dipecat atau dicoret saya juga kurang tahu. Kalau punishment dicoret itu bagi saya sudah cukup sih, tapi kalau masalah yang lain-lain itu kan sudah ketentuan PSSI, mau ambil langkah-langkah tegas itu kan kebijakan PSSI tersendiri," bebernya.
Baginya, selepas Syaiful menyepak kepala Muhammad Nadhif yang merupakan pemain Persiraja. Dan, Zulham yang melakukan pelanggaran keras dan mengakibatkan keributan. Wajar jika nama kedua pemain tersebut dicoret.
"Kalau bagi saya, dicoret itu sudah wajar diterimanya. Kalau tidak diapa-apakan ya kesalahan, yang pasti manajemen sudah ambil langkah tegas dan meminta maaf kepada pihak Persiraja," ungkapnya.
Baca Juga:AHHA PS Pati FC vs Persiraja Diwarnai Aksi Brutal, PSSI Ambil Tindakan
Adanya pertandingan brutal tersebut, disebutnya memberikan dampak positif dan negatif untuk nama Kabupaten Pati.
"Ada positif dan negatifnya. Bicara negatif, itu mencoreng fair play, kalau pengaruh nama Pati sih enggak terlalu tercoreng. Walaupun mencoreng fair play, setidaknya nama Pati terkenal. Sekelas media luar negeri pun akhirnya tahu Pati," ungkapnya.
Airlangga pun menilai insiden "berdarah" seperti itu, bukan kali pertama terjadi di dunia sepakbola. Sehingga ia menganggapnya tidak "wah" lagi.
"Pelanggaran seperti itu sih menurut saya bukan kejadin yang spektakuler dan bukan kali ini saja terjadi di persepakbolaan. Bisa dikatakan spektakuler, bisa tidak karena sekelas UERO juga pernah ada kejadian serupa," terangnya.
Meski begitu, ia berharap pihak manajemen AHHA PS Pati lebih menata emosi para pemainnya.
"Harapannya bagi manajemen, coach lebih ketat dan disiplin dalam membreafing pemain untuk menjunjung tinggi fair play lah," jelasnya.