facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Epidemiolog Tidak Setuju dengan Penyebutan Penyakit Hepatitis Misterius, Ini Alasannya

Budi Arista Romadhoni Kamis, 07 Juli 2022 | 13:00 WIB

Epidemiolog Tidak Setuju dengan Penyebutan Penyakit Hepatitis Misterius, Ini Alasannya
Ilustrasi Hepatitis, Epidemiolog UI tidak setuju dengan penyebutan penyakit hepatitis misterius dan lebih memilih kata unidentified, ini alasannya.  (Pixabay)

Epidemiolog UI tidak setuju dengan penyebutan penyakit hepatitis misterius dan lebih memilih kataunidentified, ini alasannya

SuaraJawaTengah.id - Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr. dr. Tri Yunis Miko Wahyono, M.Sc., tidak setuju dengan penyebutan penyakit hepatitis misterius dan lebih memilih kata unidentified.

"Terminologi 'hepatitis yang belum diidentifikasi (unidentified)' dipilih karena hepatitis ini bukanlah penyakit baru di Indonesia," kata Tri Yunis Miko Wahyono dalam keterangannya, Kamis (7/7/2022).

Menurut dia penyakit hepatitis sudah diketahui, yang tidak diketahui ini karena diagnosisnya belum terpecahkan. Kalau diagnosisnya belum terpecahkan namanya bukan misterius, tetapi unidentified.

"Jadi, tidak ada penyakit yang misterius," kata Dr. Miko.

Baca Juga: Kemenkes: Virus Herpes Ditemukan pada 25 Persen Pasien Hepatitis Akut Misterius di Indonesia

Lebih lanjut Miko mengatakan untuk menangani hepatitis akut pada anak, diperlukan upaya penanganan dalam sistem pelayanan sekunder. Menurut Dr. Miko, ada tiga tingkatan dalam sistem pelayanan dan sistem kesehatan, yakni layanan primer pada strata terbawah, layanan sekunder pada strata tengah, dan layanan tersier pada strata teratas.

Pada sistem pelayanan sekunder, Dr. Miko menilai layanan yang diberikan terbilang masih jauh dari standar diagnosis.

"Sistem kesehatan negara kita masih jauh dari kata well-organized dan belum cukup ajeg. Terdapat berbagai tantangan yang dihadapi ke depannya, seperti konsep layanan primer yang perlu dibuat lebih benar; integrasi layanan sebagai target pada 2024; serta sistem pelayanan lebih baik yang diharapkan tercapai pada 2030.

"Tantangan ini dapat dicapai bukan hanya dengan andil sektor kesehatan, melainkan juga dengan sinergi dari aspek politis karena berbagai kebijakan dari sektor apa pun, termasuk sektor kesehatan, tidak terlepas dari keputusan politik," demikian Miko.

Baca Juga: Cytomegalovirus Jadi Patogen yang Paling Banyak Ditemukan Pada Pasien Hepatitis Misterius

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait