Psikolog Minta Penanaman Disiplin Kepada Anak Jangan dengan Cara Kekerasan dan Merendahkan Martabatnya

Budaya penanaman disiplin terhadap anak dengan cara kekerasan dan cara-cara yang merendahkan martabatnya harus ditinggalkan

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 25 Agustus 2022 | 06:52 WIB
Psikolog Minta Penanaman Disiplin Kepada Anak Jangan dengan Cara Kekerasan dan Merendahkan Martabatnya
Ilustrasi anak sekolah.Budaya penanaman disiplin terhadap anak dengan cara kekerasan dan cara-cara yang merendahkan martabatnya harus ditinggalkan.

SuaraJawaTengah.id - Psikolog Mulyana Brata Manggala mengatakan penanaman disiplin terhadap anak dengan cara kekerasan dan cara-cara yang merendahkan martabatnya harus ditinggalkan.

"Agar tujuan pendidikan itu tercapai, maka pendidikan harus dilakukan dengan cara-cara yang menghormati harkat martabat kemanusiaan anak atau siswa," kata Brata dikutip dari ANTARA Kamis (25/8/2022).

Untuk itu, pihaknya menegaskan cara-cara mendisiplinkan anak dengan menjemur anak di lapangan atau meminta anak membersihkan toilet, harus ditinggalkan.

Hal ini karena anak harus dilindungi. "Anak masih dalam proses tumbuh dan berkembang," katanya.

Baca Juga:Bharada E Dapat Pendampingan Psikolog, Kuasa Hukum sebut Kliennya Tak Memiliki Niat Bunuh Brigadir J

Sehingga jika hal-hal traumatis dirasakan anak semasa kecil bisa mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya ketika dewasa.

Untuk itu penerapan disiplin harus dilakukan secara positif.

Brata menambahkan sekolah perlu melakukan tindakan pencegahan terhadap terjadinya kekerasan, yang meliputi penerapan pendidikan tanpa kekerasan, menciptakan lingkungan ramah anak, melaporkan bila terjadi kekerasan dan menyusun prosedur operasi standar pencegahan, termasuk kebijakan perlindungan anak, asesmen risiko dan kode etik.

"Menciptakan lingkungan ramah anak perlu melibatkan anak. Seperti membuat aturan kelas bersama. Ketika anak dilibatkan, biasanya anak-anak akan lebih komitmen untuk mengikuti aturan," katanya.

Selain itu, dengan membentuk tim pencegahan yang terdiri atas kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua.

Baca Juga:Ada Psikolog Dampingi Bharada E Saat Diperiksa Penyidik Bareskrim Polri

"Kemudian memasang papan info aduan," katanya.

Sekolah juga perlu menjalin kerja sama dengan beberapa pihak seperti psikolog, psikiater, kepolisian, tokoh agama dan pekerja sosial.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak