Terabaikan
Kondisi monumen ketenangan jiwa pagi itu seperti tidak terawat. Disekelilinginya, banyak ilalang menjulang tinggi dan tumbuhan lainnya.
Selain itu, akses jalan untuk ke sana pun cukup terjal. Karena jalannya masih berupa tanah, bebatuan dan sering digenangi air rob ketika siang dan sore hari.
"Kalau tidak salah dua tahun lalu, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Kanasugi berkunjung ke sana. Mestinya Pemerintah kota Semarang ambil peluang untuk bekerja sama dengan mereka," papar Johanes.
Baca Juga:Hari Kemerdekaan Pers Sedunia, AJI Palembang Aksi 1.000 Lilin Teruntuk Kebebasan Berekspresi
"Minta dibangun akses jalan menuju ke sana. Lokasinya kan bagus dekat pantai baruna. Bisa dibuat wisata mancing atau untuk sekedar nongkrong melepas penat," lanjutnya lagi.
Bagi warga Jepang mungkin monumen ketenangan jiwa sangat sakral. Desain punggung batu menghadap utara ternyata sangat filosofis. Orang-orang Jepang yang berdoa disana secara geografis menghadap ke Tokyo arah kaisarnya.
Berdasarkan informasi dari penjaga keamanan di pos baruna. Setiap tahunnya ada beberapa warga Jepang yang rutin berkunjung ke momumen ketenangan jiwa.
"Kalau yang saya tau ada beberapa orang Jepang yang mendirikan perusahaan disini. Setahun sekali mereka rutin ke sana. Biasanya kalau ke lokasi diantar sama teman saya," ungkap seorang security yang tidak mau disebutkan namanya.
Kontributor: Ikhsan
Baca Juga:Provinsi di Indonesia Ada Berapa? Update Jumlah Terbaru Tahun 2023