- Menjelang Ramadan, harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik, memaksa pemilik warung seperti Sofiati mengurangi margin keuntungan.
- Pedagang grosir di Pasar Borobudur mengamati kenaikan nyata harga telur dan minyak goreng, berbeda dengan data statistik deflasi Januari.
- Pedagang eceran mengurangi stok belanja bahan pokok karena daya beli masyarakat melemah, situasi ini dinilai lebih berat daripada Covid.
Harga minyak paling murah saat ini ada di kisaran Rp17.000–Rp19.000 per liter. Jika tren kenaikan harga berlanjut menjelang Ramadan, bisa mencapai Rp20.000 per liter.
Tekanan Pedagang Eceran
Dampak kenaikan harga merembet pada pola permintaan, terutama pedagang eceran. Di Pasar Borobudur, pedagang eceran mulai menahan diri.
Rata-rata pedagang kecil mengurangi jumlah belanja karena daya beli masyarakat yang turun. Dari semula membeli telur 10 kilogram untuk sekali belanja kini hanya 1–2 kilogram.
Baca Juga:Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
“Jumlah pembeli berkurang. Tapi mereka tetap harus beli karena butuh. Terutama minyak dan telur saat puasa,” kata Siti.
Tapi mengapa kondisi riil di pasar seolah tidak terbaca data statistik? Rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Januari 2026, Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,15 persen.

Penurunan harga terjadi pada bahan pangan tertentu seperti cabai, bawang, daging ayam, dan telur ayam. Artinya, indeks harga konsumen sedikit turun dari Desember 2025.
Dibanding periode yang sama tahun lalu (year-on-year), inflasi harga konsumen tetap terjadi mencapai 3,55 persen pada Januari 2026. Ini merupakan angka inflasi tertinggi selama 3 tahun terakhir.
Data lain menunjukkan, secara tahunan inflasi pangan yang terjadi pada akhir Desember 2025 meningkat sekitar 4,58 persen. Hal ini menunjukkan tekanan harga pangan secara umum.
Baca Juga:8 Tempat Camping di Magelang untuk Wisata Akhir Pekan Syahdu Anti Bising Kota
Lebih Berat dari Covid
Bagi banyak pedagang seperti Siti, tantangan pasar hari ini terasa lebih berat dibanding saat puncak pandemi Covid-19. “Ini lebih parah dari Covid. Waktu Covid masih mending ada harapan,” katanya penuh kekhawatiran.
Pada puncak pandemi sekitar tahun 2021-2022, nilai konsumsi dan mobilitas warga turun drastis. Tapi saat itu ada kebijakan stimulus dan intervensi pasar untuk menjaga pasokan bahan pokok.
Saat itu pendapatan rumah tangga mengalami tekanan, namun langkah-langkah fiskal dan moneter membantu menahan tekanan inflasi meski dorongan permintaan sangat kuat.
Kini permintaan konsumsi yang tertekan harus berhadapan dengan harga yang merayap naik. Kekhawatiran pasokan barang menjelang Ramadan, dan inkonsistensi dalam tren harga, membuat perencanaan bisnis mikro menjadi lebih berat.
Bagi Sofiati, Siti, juga pelaku usaha kecil lainnya, realitas pasar menjadi lebih personal dibanding data statistik yang menyajikan gambaran makro. Naik-turun harga di pasar membunyikan alarm bahwa daya beli masyarakat sedang tertekan.