- Ibadah i'tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadhan berhukum sunnah muakkadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- I'tikaf dilaksanakan dengan memfokuskan diri total pada ibadah serta menjauhi kesibukan duniawi di masjid.
- Saat memasuki masjid untuk i'tikaf, disunnahkan menjaga adab seperti berwudhu dan salat tahiyatul masjid terlebih dahulu.
SuaraJawaTengah.id - Ibadah i’tikaf menjadi salah satu amalan yang dianjurkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Banyak umat Islam memanfaatkan momen ini untuk memperbanyak ibadah di masjid dengan harapan mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar.
Namun tidak sedikit yang masih bertanya mengenai hukum serta tata cara i’tikaf yang benar. Dalam sebuah kajian, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, selama memenuhi syarat-syarat tertentu.
Berikut penjelasan mengenai tata cara itikaf di masjid bulan Ramadhan menurut Ustadz Adi Hidayat.
1. I’tikaf Hukumnya Sunnah Muakkadah
Baca Juga:Jawa Tengah Bersiap Sambut 'Serbuan' Pemudik Lebaran 2026: Antara Kerinduan dan Kesiapan Darurat
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa i’tikaf termasuk ibadah yang hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai ibadah. Aktivitas ini dilakukan dengan memfokuskan diri pada amalan seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga berdoa.
Menurut beliau, i’tikaf merupakan sarana bagi seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dengan menjauhkan diri dari berbagai kesibukan dunia yang sering menjadi gangguan dalam beribadah.
2. I’tikaf Dilakukan dengan Fokus Beribadah
Secara bahasa, i’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti fokus atau menetap pada sesuatu. Dalam konteks ibadah, i’tikaf berarti memusatkan perhatian sepenuhnya pada kegiatan ibadah kepada Allah.
Baca Juga:Waspada Jateng! BMKG Peringatkan Potensi Hujan Sangat Lebat, 2 Bibit Siklon Jadi Pemicu
Karena itu, salah satu tujuan utama i’tikaf adalah membantu seseorang untuk lebih fokus dalam beribadah. Berada di masjid dinilai dapat mengurangi berbagai gangguan yang biasanya muncul ketika seseorang berada di rumah.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa suasana masjid dapat mendorong seseorang untuk memperbanyak ibadah. Ketika orang lain membaca Al-Qur’an atau shalat malam, hal tersebut dapat menjadi motivasi untuk melakukan hal yang sama.
3. Masuk Masjid dengan Adab yang Benar
Dalam menjalankan i’tikaf, seorang muslim juga harus memperhatikan adab ketika berada di masjid. Masjid merupakan rumah Allah yang memiliki aturan dan adab tertentu yang harus dijaga.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ketika memasuki masjid, seorang muslim dianjurkan masuk dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid.
Setelah itu, dianjurkan untuk menunaikan shalat tahiyatul masjid sebelum duduk. Hal ini menunjukkan penghormatan terhadap tempat ibadah yang menjadi pusat aktivitas spiritual umat Islam.
Dengan menjaga adab tersebut, i’tikaf tidak hanya menjadi aktivitas berdiam di masjid, tetapi juga menjadi ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan penghormatan terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam syariat.
4. Mengisi I’tikaf dengan Ibadah yang Bermanfaat
Selama menjalankan i’tikaf, umat Islam dianjurkan untuk mengisi waktunya dengan berbagai amalan yang bermanfaat.
Beberapa amalan yang bisa dilakukan antara lain membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, berzikir, memperbanyak doa, hingga menunaikan shalat sunnah.
Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan agar kegiatan yang dilakukan selama i’tikaf benar-benar bertujuan untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Kegiatan yang tidak bermanfaat atau hanya bersifat hiburan sebaiknya dihindari agar tujuan utama i’tikaf tetap terjaga.
5. Menghindari Hal yang Tidak Bermanfaat
Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan agar umat Islam menghindari berbagai aktivitas yang tidak memiliki manfaat selama berada di masjid.
Hal ini termasuk pembicaraan yang tidak penting, kegiatan yang tidak berkaitan dengan ibadah, hingga aktivitas yang justru dapat mengurangi kekhusyukan.
Menurut beliau, i’tikaf seharusnya menjadi momen untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, bukan sekadar berkumpul atau menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas.
Karena itu, setiap aktivitas yang dilakukan selama i’tikaf sebaiknya diarahkan untuk memperkuat ibadah dan meningkatkan ketakwaan.
6. Perempuan Boleh I’tikaf dengan Syarat Tertentu
I’tikaf tidak hanya berlaku bagi laki-laki. Perempuan juga diperbolehkan menjalankan i’tikaf selama memenuhi beberapa syarat tertentu.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan oleh perempuan yang ingin melakukan i’tikaf di masjid.
Pertama, kondisi tempat harus aman dan terhindar dari potensi fitnah. Kedua, terdapat area khusus bagi perempuan yang terpisah dari jamaah laki-laki. Ketiga, tidak ada kewajiban rumah tangga yang lebih mendesak yang harus diprioritaskan.
Apabila masih terdapat kewajiban seperti merawat anak kecil atau tanggung jawab keluarga lainnya, maka lebih baik ibadah dilakukan di rumah.
Menariknya, menurut penjelasan beliau, seorang perempuan tetap bisa mendapatkan pahala yang sama jika ia membantu menyiapkan kebutuhan keluarga yang menjalankan ibadah di masjid.
7. I’tikaf Bertujuan Mendekatkan Diri kepada Allah
Pada akhirnya, tujuan utama i’tikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan kualitas ibadah.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan.
Karena itu, i’tikaf menjadi salah satu cara untuk memaksimalkan ibadah pada waktu tersebut.
Dengan memahami tata cara itikaf di masjid bulan Ramadhan menurut Ustadz Adi Hidayat, umat Islam diharapkan dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih baik dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Kontributor : Dinar Oktarini