Ngeri! Balita Usia 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran, Ini 5 Faktanya

Seorang balita 1,5 tahun selamat setelah mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran. Korban berhasil diselamatkan berkat gerak cepat tim SAR di tengah cuaca ekstrem.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 13 April 2026 | 09:26 WIB
Ngeri! Balita Usia 1,5 Tahun Alami Hipotermia di Gunung Ungaran, Ini 5 Faktanya
Detik-detik bayi mengalami Hipotermia di Gunung Ungaran. [Instagram/@batanghelp & @diengpost]
Baca 10 detik
  • Seorang balita berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah, pada Sabtu, 11 April 2026.
  • Perubahan cuaca ekstrem berupa hujan deras di puncak Bondolan memicu penurunan kondisi kesehatan fisik balita tersebut secara drastis.
  • Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban dengan cepat sehingga nyawa balita tersebut selamat dan kondisi fisiknya kembali stabil.

SuaraJawaTengah.id - Sebuah momen menegangkan terjadi di jalur pendakian Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Sabtu, 11 April 2026. Seorang balita berusia 1,5 tahun dilaporkan mengalami hipotermia saat berada di kawasan puncak Bondolan usai diguyur hujan deras.

Beruntung, tim SAR gabungan yang tengah bersiaga di lokasi langsung bergerak cepat memberikan pertolongan. Nyawa sang balita pun berhasil diselamatkan.

Berikut lima fakta penting di balik peristiwa dramatis tersebut sebagaimana dikutip dari Instagram @diengpost dan @batanghelp beberapa waktu lalu.

1. Balita 1,5 Tahun Mengalami Hipotermia di Puncak Gunung

Baca Juga:Kejahatan Sadis di Semarang, Penjambretan Brutal Terekam CCTV, Wajah Korban Robek 17 Jahitan

Korban diketahui bernama Lan Lan, balita perempuan berusia 1,5 tahun asal Tembalang, Semarang.

Saat kejadian, korban berada di jalur pendakian Gunung Ungaran bersama kedua orang tuanya. Mereka berhasil mencapai puncak sekitar pukul 14.00 WIB.

Namun, kondisi sang balita tiba-tiba memburuk setelah cuaca berubah ekstrem. Ia terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan yang tidak biasa, yang kemudian diketahui sebagai gejala hipotermia.

2. Cuaca Ekstrem Jadi Pemicu Utama

Peristiwa ini dipicu oleh perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak di area puncak.

Baca Juga:Waspada! Semarang Diguyur Hujan Ringan Hari Ini, Berpotensi Terjadi Cuaca Ekstrem

Hujan deras disertai suhu dingin yang menusuk membuat kondisi tubuh balita menurun drastis dalam waktu singkat. Lingkungan terbuka di ketinggian mempercepat penurunan suhu tubuh, terutama pada anak kecil yang lebih rentan.

Situasi ini menjadi bukti bahwa kondisi alam di gunung dapat berubah dengan cepat dan berpotensi membahayakan, terutama bagi pendaki yang membawa anak.

3. Tim SAR Langsung Gerak Cepat di Lokasi

Keberuntungan berpihak pada korban karena saat kejadian, tim SAR gabungan dari Basarnas sedang melaksanakan siaga khusus dalam kegiatan Semarang Mountain Race.

Begitu menerima laporan, tim langsung bergerak menuju lokasi di kawasan puncak Bondolan tanpa menunda waktu.

Penanganan awal dilakukan langsung di tempat kejadian dengan fokus utama menstabilkan kondisi tubuh korban.

Respons cepat ini menjadi faktor penting yang menyelamatkan nyawa balita tersebut.

4. Penanganan Darurat Dilakukan di Tengah Cuaca Buruk

Tim SAR segera melakukan tindakan pertolongan pertama dengan menghangatkan tubuh korban dan melindunginya dari paparan cuaca ekstrem.

Langkah-langkah seperti penghangatan tubuh menjadi krusial dalam kasus hipotermia, karena penanganan yang terlambat dapat berujung fatal.

Meski berada di kondisi lapangan yang tidak ideal, proses penanganan tetap dilakukan secara maksimal.

Setelah beberapa waktu, kondisi korban mulai menunjukkan tanda-tanda membaik dan lebih stabil.

5. Evakuasi Cepat Berhasil Selamatkan Nyawa Korban

Setelah kondisi balita cukup stabil, tim SAR gabungan langsung melakukan evakuasi bersama kedua orang tuanya.

Korban dibawa turun menuju Basecamp Perantunan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Proses evakuasi berjalan lancar dan korban berhasil diselamatkan dalam kondisi sadar.

Keberhasilan ini menjadi bukti pentingnya kesiapsiagaan tim SAR dalam menghadapi situasi darurat di medan ekstrem.

Kejadian ini menjadi pengingat serius bagi para pendaki, khususnya yang membawa anak kecil.

Gunung bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga lingkungan dengan risiko tinggi yang membutuhkan persiapan matang. Faktor cuaca, perlengkapan, dan kondisi fisik harus diperhatikan sebelum memulai pendakian.

Balita dan anak kecil memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah terhadap suhu ekstrem, sehingga membutuhkan perlindungan ekstra.

Dengan persiapan yang tepat dan kewaspadaan yang tinggi, risiko kejadian serupa dapat diminimalkan.

Kontributor : Dinar Oktarini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak