- Tanah longsor di lereng Gunung Slamet, Pemalang dan Purbalingga, dipastikan akibat curah hujan ekstrem, bukan aktivitas pertambangan.
- Dinas ESDM Jawa Tengah menyatakan longsor terjadi karena tanah jenuh air pada lereng curam yang mudah menyerap air.
- Pemerintah memperkuat mitigasi bencana dengan peringatan dini rutin serta mengancam menindak tegas pelaku tambang melanggar aturan.
SuaraJawaTengah.id - Bencana tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, sempat memicu spekulasi publik terkait aktivitas pertambangan.
Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini memastikan, longsor dahsyat itu murni 'ulah' alam, dipicu oleh curah hujan ekstrem, bukan dampak dari penambangan.
Klarifikasi tegas ini datang dari hasil tinjauan lapangan dan kajian teknis mendalam yang dilakukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.
Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, dengan lugas menyatakan, "Longsoran terjadi pada lereng-lereng terjal di tubuh Gunung Slamet akibat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Ini murni faktor alam."
Penjelasan ini sekaligus menepis isu-isu yang beredar di masyarakat. Menurut Agus, hujan ekstrem berhari-hari menyebabkan tanah di kawasan tersebut jenuh air, ditambah kemiringan lereng yang curam, sehingga stabilitas tanah menurun drastis.
Agus menambahkan, karakteristik tanah di lereng Slamet yang memiliki porositas tinggi dan mudah menyerap air, serta jenis batuan yang mudah lapuk (litologi), turut memperbesar potensi gerakan tanah saat diguyur hujan lebat.
Ini adalah kombinasi 'maut' yang secara alami meningkatkan risiko longsor.
Isu Tambang Dibantah Tegas: Lokasi Jauh dari Titik Longsor
Menanggapi isu keterkaitan dengan aktivitas pertambangan, Agus menegaskan bahwa tidak ada satu pun aktivitas tambang yang berlokasi di tubuh Gunung Slamet.
Baca Juga: Syafiq Ali Pendaki Hilang di Gunung Slamet Ditemukan Tewas, akan Dimakamkan Disebelah Pusara Nenek
"Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor. Tidak ada pertambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet," tegasnya.
Ia menjelaskan, lokasi pertambangan berada di bagian kaki gunung, dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik mahkota longsoran. Penegasan ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran masyarakat dan meluruskan informasi yang simpang siur.
Mitigasi dan Peringatan Dini Diperkuat, Pelaku Tambang 'Nakal' Siap Ditindak
Dalam upaya mitigasi bencana, Dinas ESDM Jawa Tengah tidak tinggal diam. Secara rutin, setiap bulan, mereka merilis peta potensi gerakan tanah yang dilengkapi tabulasi curah hujan dan tingkat kerawanan dari BMKG.
Informasi ini disebarkan ke seluruh bupati dan wali kota di Jawa Tengah sebagai peringatan dini.
"Ini kami sebarkan sebagai peringatan dini agar daerah meningkatkan kewaspadaan," jelas Agus.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
Pilihan
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
-
IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara
-
IHSG Ambruk Hampir 8 Persen
-
IHSG Anjlok 6% Lebih, Rekor Terburuk di Era Menkeu Purbaya
Terkini
-
BMKG dan ESDM Ungkap Fakta: Hujan Ekstrem Biang Kerok Longsor di Gunung Slamet
-
BRI Peduli Hadir di Blora: Ratusan Sembako Disalurkan via Pesantren, Ringankan Beban Warga
-
5 SUV Bekas di Bawah Rp100 Juta Ini Solusi Cerdas Hadapi Jalanan di Indonesia
-
Waspada! Semarang Diprediksi Diguyur Hujan Ringan Disertai Petir Hari Ini, BMKG Beri Peringatan Dini
-
Kunci Jawaban Pendidikan Pancasila Kelas 9 SMP Halaman 140 Kurikulum Merdeka