Cerita Mahasiswi Anak Kuli Angkut Pasir Jadi Lulusan Terbaik Unsoed

Bangun Santoso
Cerita Mahasiswi Anak Kuli Angkut Pasir Jadi Lulusan Terbaik Unsoed
Indri Suwarti berfoto bersama orang tuanya usai proses wisuda di gedung Graha Widyatama Unsoed Purwokerto, Selasa (10/12/2019) kemarin. (Foto: dokumentasi pribadi)

Indri mengaku kerap diejek tetangga karena berasal dari keluarga kurang mampu dan disebut kuliah dari hasil mengemis

SuaraJawaTengah.id - Bagi beberapa orang, merasakan bangku kuliah menjadi hal yang amat diimpikan selepas masa SMA. Namun, biaya kuliah yang tidak sedikit niat untuk terus menempuh pendidikan tinggi menjadi surut.

Namun hal itu tak berlaku bagi Indri Suwarti (22). Bermodal tekad kuat, ia berhasil lulus sebagai mahasiswi bahkan menjadi lulusan terbaik Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed Purwokerto, Jawa Tengah dengan meraih IPK nyaris sempurna yakni 3,94.

Ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude dan menjadi wisudawati terbaik dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsoed Purwokerto pada Selasa (10/12/2019).

"Alhamdulillah, saya bersyukur sekali bisa lulus dengan kondisi keluarga yang bisa dibilang kurang mampu ini," kata gadis kelahiran 15 Juli 1997 di Desa Pejogol, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas itu.

Meski berasal dari keluarga kurang mampu, tekad Indri untuk terus menempuh pendidikan mendapat dukungan penuh dari gurunya saat masih di SMK Negeri 3 Purwokerto.

Ia kemudian diterima sebagai mahasiswi di Unsoed melalui jalur SBMPTN dan mendapat beasiswa bidikmisi selama kuliah.

"Alasan saya dahulu masuk SMK, saya pikir setelah itu bisa langsung bekerja. Saya tidak pernah terpikirkan bisa masuk kuliah karena keterbatasan biaya. Jujur saya ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi bingung dan tidak mau membebani orang tua saya," terangnya.

Ia pun bercerita selama masa-masa ia kuliah. Meski mendapat beasiswa, tak lantas membuat Indri berleha-leha. Ia mengaku bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari karena tidak mungkin mengandalkan orang tuanya yang hanya bekerja sebagai kuli angkut pasir di desanya.

Indri mengaku bekerja paruh waktu di sebuah hotel dengan berbekal ilmu yang didapat sewaktu mengenyam pendidikan di SMK Negeri 3 Purwokerto.

"Saya bekerja di hotel saat akhir minggu atau hari libur. Awal masuk kerja bayaran saya Rp 40.000 per hari. Tapi akhir-akhir ini sudah naik jadi Rp 75.000. Itu kadang juga sampai malam," katanya.

Usaha tersebut dilakukan karena melihat kondisi ayahnya, Natun yang berprofesi sebagai kuli angkut pasir. Terlebih ia memiliki adik yang masih duduk di kelas 3 SMP.

Sementara sang ibu, Toinah hanya seorang ibu rumah tangga yang kini menderita penyakit epilepsi. Jatah dari orang tuanya hanya Rp 10 ribu per hari. Itupun habis untuk uang bensin.

"Terkadang kalau uang bidikmisi belum cair dan saya memerlukan uang untuk kebutuhan kuliah, ayah saya sampai menjual ayam peliharaannya. Saya sadar bahwa berasal dari keluarga tidak punya. Keluarga saya sering dihina oleh tetangga dan dibilang saya melanjutkan kuliah karena mengemis minta bantuan. Karena itulah saya menjadi bersemangat dan berusaha membuktikan kalau saya bisa berprestasi," katanya.

Indri mengaku kerap mengalami bullying atau cibiran dari teman sekelasnya karena tidak mau memberikan contekan saat ujian sehingga ia sering disindir oleh temannya. Namun kejujuran lah yang menjadi prinsip hidupnya, hingga mengantarnya menjadi mahasiswi lulusan terbaik Unsoed tahun ini.

Kontributor : Anang Firmansyah

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS