SuaraJawaTengah.id - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dorong pemetaan wilayah rawan bencana hingga tingkat kecamatan harus dioptimalkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr Indra Permanajati merespons adanya kerawanan bencana yang bisa saj terjadi di kawasan Jawa Tengah bagian selatan.
"Pemetaan daerah rawan bencana hingga tingkat kecamatan perlu dioptimalkan, bahkan jika perlu dibuat lebih detail hingga ke tingkat desa," katanya seperti dilansir Antara di Purwokerto pada Kamis (31/12/2020).
Koordinator Bencana Geologi Pusat Mitigasi Unsoed ini juga menjelaskan, pemetaan wilayah rawan bencana secara rinci dan akurat sangat diperlukan guna mendukung program mitigasi bencana.
Baca Juga:Indonesia Masuk 35 Negara Paling Rawan Bencana, Ini Respon BNPB
Dosen Mitigasi Bencana Geologi, Jurusan Teknik Geologi Unsoed ini juga menambahkan, kebijakan tersebut harus diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.
"Ada dua kebijakan yang harus diterapkan di seluruh wilayah indonesia, yaitu pemetaan wilayah bencana tingkat kecamatan dan kemudian regulasi teknik standar bangunan baik di wilayah yang stabil maupun yang rawan bencana," katanya.
Kemudian, kata dia, langkah selanjutnya yang perlu diintensifkan tahun 2021 adalah terkait sosialisasi secara masif terkait dengan peran masyarakat dalam penanganan bencana.
"Hal ini akan sangat mengurangi risiko bencana karena masyarakat yang dulunya bersifat pasif dan hanya sebagai objek atau masyarakat terdampak, dengan adanya sosialisasi akan menjadi masyarakat yang bersifat aktif dalam penanganan bencana sehingga bakal memperkecil risiko bencana yang signifikan," katanya.
Kemudian, kata dia, satu langkah lagi yang strategis dalam penanganan bencana ke depan adalah pengembangan riset kebencanaan dan pengembangan teknologi dan informasi kebencanaan.
Baca Juga:Kabupaten Banyumas Rawan Bencana, AnggaranRp4,3 Miliar Disiapkan
"Dua hal ini akan berdampak pada ketepatan dan keakuratan dalam mitigasi bencana," katanya.
Jika langkah-langkah diatas bisa diterapkan, kata dia, maka kemungkinan dampak bencana akan semakin minimal dalam rangka mendukung upaya mitigasi bencana.
Kalau langkah-langkah di atas sudah dilaksanakan namun risiko bencana masih tinggi, kata dia, maka evaluasinya beralih pada pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program.
Sebelumnya dia juga menjelaskan bahwa selama tahun 2020 ini pelaksanaan penanganan bencana sudah cukup baik.
"Pemerintah sudah melaksanakan penanganan bencana dengan baik dan sangat serius. Konsep 'pentahelix' yang dicanangkan pemerintah cukup efektif bekerja, terbukti dengan peran serta masyarakat, media, akademisi dan lain-lain dalam penanganan bencana sudah bisa berjalan," katanya.
Kendati demikian, kata dia, strategi penanganan bencana perlu terus diintensifkan mengingat strategi tersebut sangat penting untuk mewujudkan konsep penanganan yang tepat sasaran dan efektif. (Antara)